Review #8 CEO KOPLAK!!! Gue Ogah Biasa, so Gue Kudu Gila!

on Sabtu, 01 November 2014


Judul : CEO KOPLAK!!!
Nama Penulis : @edi_akhiles
Penerbit : Laksana
Editor : Tim Koplak
Tata Sampul & Illustrasi : Agus Bledus
Tata Isi : Bambung Suwung
Pracetak : Wardi Bei
Tanggal Terbit : Maret 2013
Edisi : Cetakan Pertama
ISBN : 978-602-7723-55-9





Sinopsis :

#NoMainstream!
Identik dengan gila-koplak!
Buku cerita leadership ala CEO yang ganjil, ngakak, inspiratif: ternyata dunia professional bisa dibanting-banting sedemikian strong diversity, dan itu nampol muka banget. Pera pemimpin, professional, pebisnis, calon pengusaha, dan calon kepala atau anggota rumah tangga, baca deh buku kaya olah kreatif karikatur ini!

@edi_akhiles, calon dokter ini namanya diabadikan dalam Angkatan Sastra 2000. Merintis publishing (DIVA Press Group) sejak tahun 2001 dan jadi CEO-nya. Buku-buku bestseller-nya, antara lain Andai Aku Jalan Kaki, Thx for Auratmu, dan Rogoh Ah… Pengen ngekos di rumahnya? Klik: www.akhilesislion.blogspot.com Pengen pin BB-nya juga? Add: 1311kplk1977.
***
“Ada dua tipe manusia, orang biasa dan orang luar biasa (biasa keluar juga boleh, kok). Kalau tidak bisa jadi orang luar biasa, pilihlah jadi ‘orang gila’, karena ide-ide ‘orang gila’ terkadang jauh lebih luar biasa. Si bos koplak ini contohnya!”
@edikkoeswoyo,
penulis novel dan skenario.
“Gue selalu dibuat terpingkal-pingkal setiap baca tulisan beliau dan sekaligus ngerasa diajak berempati. Tulisan yang sangat cerdas! Susah ditiru!”
@rezanufa,
penulis novel dan penggemar filsafat.

“Buku CEO Koplak gilaakk abiiss…kereeennn…kreatif…inovatif, dan kawan-kawannya, menyadarkan gue kalo dunia akan terasa lebih sangat indah jika bisa BE MY SELF tanpa kekangan. Two tumbs up!”
@rara_3R,
penulis novel.

“Buku ini nyeritain ‘cara menyimpang’ leadership @edi_akhiles, CEO DIVA Press Group, yang out of the box, strong mainstream diversity, crazy top down which equals koplak satu koplak semua. XD *unyel-unyel*.”
@IenMyunk(Noey Moore),
penulis novel dan Putri Indonesia Jawa Tengah 2004.

“Orang yang mengira buku ini hanya main-main, sesungguhnya mereka hanya tidak ingin mengakui bagaimana buku ini telah berhasil mempermainkan logika dan hati mereka dengan begitu mudahnya.”
@herlinatiens,
penulis novel.

Hai ! ketemu lagi dengan saya. Si maniak yang cuek ini #hihi. Rada bosen ya ketemu sama saya ? #Iyaa…Jahat banget sih. Kali ini saya mau me-review buku gokil yang satu ini lho. Udah pada nggak sabar kan ? Yuk mari, cekidot !!

My review :
“Jangan jadi lalat dalam toples kaca: bebas terbang kesana-kemari seolah sudah melihat dunia, padahal ia hanya tetap ada di dalam toples itu. Lo kudu out of the box.” (hal.15)

Ini termasuk novel dengan genre gokil, lucu, humor, pokoknya semacam itulah. Isi ceritanya tentang kisah sehari-hari seorang CEO dari sebuah perusahaan publishing DIVA Press Group. Yup siapa lagi kalau bukan bang @edi_akhiles.

Ceritanya tentang kejadian paling gokil dalam hidupnya selama ia menjabat menjadi CEO. Tentang dirinya yang out of the box waktu bekerja #ApasihMaksudnya? Pada nggak ngerti ya ? Ya udah sini saja jelasin. Di dalam buku ini bang @edi_akhiles itu bukan termasuk orang yang pakai kemeja putih, rambut kelimis, pakai dasi, kaca mata bening, celana kombor. No, itu bukan gayanya.

Dibuku ini bang @edi_akhiles ogah biasa, jadi dia kudu gila. Mantap banget kan ! Pokonya ini buku bagus banget. Suwer ! Banyak hal di dalam buku ini yang menginspirasi saya. Terumata tentang dunia penulisan dan penerbitan. Bahwa ada juga lho penerbit yang mau nerbitin buku tapi harus bayar. Dan tanpa menyeleksi naskah, bisa terbit tapi pakek duit. Gila nggak tu ?

“ ‘Merasa pintar’ dan ‘merasa sudah jadi penulis’ adalah efek memuakkan dari pembunuhan terhadap masa depan mereka sendiri.” (hal.65)

“Publik luaslah yang akan menjadi hakim sempurna atas kapasitas lo sebagai penulis. Masyarakat luas itulah the real “intellectual community” yang bakal mutusin lo sudah layak jadi penulis top atau belum.” (hal.66)

Di dalam buku ini bang @edi_akhiles menceritakan keakraban dirinya dengan karyawan-karyawannya. Ini positif banget. Bahkan kadang beliau mengadakan nobar. Dengan nobar itulah, semua label formal antara pimpinan dan bawahan lepas, merobek tuntas batas-batas profesionalisme yang begitu kental di kantor. Tertawa bersama dengan kekonyolan dan kegilaan yang dibuat masing-masing orang.

“Menertawakan diri sendiri merupakan salah satu cara efektif untuk memasuki alam psikis orang lain.” (hal.133)

Ya, intinya ni buku bagus pakek banget dah. Idenya masih unik lagi. Menceritakan keseharian dalam bekerja dengan menampilkan sisi gokil yang bisa bikin ketawa para pembacanya. Tapi kok saya jarang ketawa ya waktu bacanya. Kesannya lurus-lurus aja gitu. Saya bahkan gregetan sendiri, dan berpikir mungkin ada kejutan di pertengahan. Tapi tetep nggak ada, cuma pada bagian akhir doang saya bisa ketawa, itu juga nggak ngakak-ngakak abis gitu. Padahal pengennya ketawa ngakak sampai perut rasanya sakit.
Meski buat saya buku ini kurang gokilnya, namun buku ini banyak sekali mengajarkan saya tentang bahwa kita harus out of the box kalau ingin berbeda.

“Kalau lo bisa berbeda sendiri dalam sebuah kumpulan, niscaya lo akan muncul ke permukaan. So, jika lo pengen jadi “pemuncul” dari keriuhan sebuah kelompok, lo kudu menampilkan sesuatu yang beda!”(hal.136)

Nah, itu lho ! Itu kuncinya. Kita harus menampilkan sesuatu yang beda. Asal jangan dandan kayak orang gila supaya kelihatan beda. Jangan lho ya !
Soal cover dan tampilan halamannya. Cukup bagus. Halaman demi halamannya di beri hiasan, yang enak dipandang mata. Jadi kesannya nggak polos gitu. Plusnya lagi adalah, ada ilustrasi gambar kayak komik gitu didalamnya.

Ada beberapa quotes yang saya suka dari buku ini, diantaranya :
1.      “Orang baru kagak akan pernah bisa gantiin orang lama, sebab setiap orang punya karakter dan sejarahnya sendiri-sendiri. Ini bukan lagi (seringkali buat gue) tentang kinerja, omset, dan kinerja. Bukan melulu itu. Ini tentang me and you = us!” (hal.77)
2.      “Orang tuh emang pada punya kecenderungan ngulik pikiran negatifnya sendiri, bahkan untuk hal yang sejatinya sangat sangat sangat kagak penting untuk dipeduliin.” (hal.139)
3.      “Gue nggak bakal pernah bisa beli kekariban, tetapi gue bisa menciptakannya dengan cara cara sederhana penuh kesan.” (hal.149)

0 komentar:

Posting Komentar