[Review] A Game Of Thrones #1

on Rabu, 22 April 2015


 Judul : A Game Of Thrones
Nama Penulis : George R.R Martin
Pewajah Sampul : Defi Lesmawan
Tata Letak Isi : Yhogi Yhordan
Penerjemah : Barokah Ruziati
Penyunting : Lulu Fitri Rahman dan Tim Redaksi Fantasious
Pemeriksa Aksara : Westeros Indonesia
Penerbit : Fantasious
Tanggal Terbit : Maret 2015
Edisi : Cetakan Pertama
ISBN : 978-602-0900-29-2
Rating : 5 dari 5 bintang

“Beberapa rahasia lebih aman jika tetap tersembunyi. Beberapa rahasia terlalu berbahaya untuk dibagi, bahkan dengan orang-orang yang kaucintai dan kau percayai.” –hlm. 394

Raja Aerys Targeryan terbunuh setelah melakukan tindakan gila dengan membuka gerbang King’s Landing untuk kedatangan Lord Tywin Lannister bersama 12.000 orang yang menyatakan kesetiaan. Targeryan yang sudah terbiasa dengan penghianatan itu tak tahu kalau sebenarnya Lannister datang untuk membalas mereka dengan cara yang sama. Setelah meninggal, perebutan takhta itu jatuh kepada Robert Baratheon.

Eddard Stark pemimpin Klan Stark yang tinggal di Winterfell bersama istrinya, Catelyn Tully, lima anak kandungnya –Robb Stark, Sansa Stark, Arya Stark, Bran Stark, dan Rickon Stark—juga satu anak haramnya bernama Jon Snow dan satu anak asuhnya bernama Theon Greyjoy mendapat firasat buruk kala ia ditunjuk sebagai Tangan Kanan Raja yang baru oleh Raja Robert—temannya sendiri, menggantikan Jon Arryn yang meninggal.

Dengan berat hati, Eddard Stark menempuh perjalanan ke selatan menuju King’s Landing untuk memenuhi kehormatan besar Raja Robert yang diberikan padanya dengan membawa serta kedua anak gadisnya, Sansa dan Arya serta menyelidiki kematikan Jon Arryn yang terasa janggal baginya. Robb, Bran dan Rickon tetap tinggal di Winterfell bersama Catelyn, sementara Jon Snow ikut dengan Benjen Stark ke Tembok Besar untuk bergabung dengan Garda Malam.

“Aku tak bermaksud menakutimu, tapi aku juga takkan berbohong padamu. Kita datang ke tempat gelap yang berbahaya, Nak. Ini bukan Winterfell. Kita punya musuh yang bermaksud jahat pada kita. Kita tak boleh berperang di antara kita sendiri. Kekeraskepalaanmu ini, pelarianmu, kata-kata marah, ketidakpatuhan…di rumah, semua ini hanya permainan musim panas anak-anak. Di sini dan sekarang, dengan musim dingin yang sebentar lagi datang, kondisinya sangat berbeda. Sudah waktunya bersikap dewasa.” –hlm. 241

Kewajiban dan tugas-tugas berat telah menanti Eddard Stark kala ia sampai di King’s Landing. Berbagai urusan dan kejadian-kejadian yang menimpanya di King’s Landing benar-benar menggerogotinya, membuatnya merindukan Winterfell. Permasalahan tentang utang-utang raja, dan keinginan Raja Robert untuk membunuh Daenerys Tageryan yang masih anak-anak dan mengandung (dalam hal ini Ned tidak setuju) membuat kepalanya berdentum-dentum.

Sementara di lain pihak, keturunan terakhir Klan Targeryan, Viserys Targeryan dan adiknya Daenerys Targeryan yang selamat dari perang karena berhasil melarikan diri mencoba merebut takhta secara diam-diam. Viserys memaksa adik perempuannya, Daenerys, untuk menikah (lebih tepatnya menjual adiknya) dengan Khal Drogo, penguasa bangsa Dothraki, tujuannya adalah untuk mendapatkan sepuluh ribu pejuang Dothraki yang akan ia gunakan untuk menyapu bersih Tujuh Kerajaan, dan Kekaisaran akan berdiri menyambut dirinya sebagai raja yang sah.

Disela-sela tugasnya, Ned diam-diam menyelidiki kematian Jon Arryn yang terasa janggal. Ia membaca buku tebal Maester Agung Malleon berjudul “Silsilah dan Sejarah Klan-klan Besar di Tujuh Kerajaan, Dengan Deskripsi Sejumlah besar Bangsawan Laki-laki dan Perempuan Serta Anak-anak Mereka” yang sempat dibaca Jon Arryn sebelum meninggal.

 “Emas kalah dari arang” hlm. –543

Ketika akhirnya Ned mampu memecahkan teka-teki akan kematian Jon Arryn, saat itulah malapetaka telah datang menyambutnya.

Tywin Lannister dari Klan Lannister menyatakan perang saat mengetahui bahwa salah satu anaknya, Tyrion Lannister (memiliki julukan Setan Kecil) menjadi tawanan Catelyn Tully karena diduga telah mencoba membunuh Bran Stark. Lady Catelyn membawa Tyrion menuju ke Lembah Arryn untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.

Ketika akhirnya perang itu meletus, mau tak mau, Robb Stark, yang menjadi lord Winterfell, menggantikan ayah dan ibunya yang telah pergi, memutuskan untuk memimpin pasukannya menuju Selatan. Usianya masih lima belas tahun saat itu, namun ia harus bersikap dewasa untuk menyelamatkan keluarga, Klan dan juga rumah tinggalnya, Winterfell. Memang harus ada yang pergi, untuk mempertahankan Neck dan membantu Klan Tully melawan pasukan Lannister, namun, Maester Luwin mendesak Robb untuk tidak harus pergi. Ia bisa menugaskan Hal Mollen atau Theon Greyjoy atau salah satu lord pengikutnya untuk memimpin pasukan. Dan Robb menolaknya.

“Ayahku tak mungkin mengirim orang untuk mati sementara dia meringkuk seperti penakut di balik dinding Winterfell.” –Robb Stark –hlm. 651

Jon Snow yang saat perang itu meletus berada di Tembok besar pun tak dapat melakukan apa-apa. Maester Aemon mengatakan bahwa dirinya tidak bisa menyuruh Jon tinggal atau pergi, dan keputusan itu hanya Jon sendiri yang harus memutuskannya. Kalau ia pergi, ia akan dianggap desertir, ia sudah mengambil sumpah sebagai anggota Garda Malam. Kalau ia tetap tinggal, ia seperti pengecut. Bagaimana ia bisa tetap tinggal ketika ayahnya, saudara-saudara tirinya tengah menghadapi bahaya yang besar di luar sana ?

“Kini giliranku berjaga. Aku akan terus berjaga sampai ajalku tiba. Aku adalah pedang dalam kegelapan. Aku adalah pengawas di benteng. Aku adalah api penakluk angin, cahaya pembawa fajar, sangkakala peringatan, perisai pelindung manusia. Hidup dan kehormatanku kubaktikan pada Garda Malam. Mulai malam ini…dan setiap malam sesudahnya.” –hlm. 879

Saat memainkan perebutan takhta,
pilihannya adalah menang atau mati… –hlm. 545

Inilah negeri tempat matahari terbenam. Negeri dengan tujuh kerajaan, tempat klan-klan besar saling berebut takhta.

 Source : here
 
Klan Baratheon, dengan rusa jantan bermahkota dengan warna hitam berlatar emas yang menjadi simbol. Semboyan mereka berbunyi Yang Kami Miliki adalah Amarah.

Klan Stark, dengan simbol direwolf abu-abu berlatar putih es sebagai simbol dan semboyan Musim Dingin Akan Datang.

Klan Lannister dengan singa emas berlatar mereka merah tua yang angkuh dan semboyan Dengar Raunganku!

Klan Tully yang memilih lambing ikan trout melompat, warna perak berlatar biru dan merah serta semboyan Keluarga, Kewajiban, Kehormatan yang dijunjung tinggi.

Klan Targeryen yang namanya diucap rakyat Tujuh Kerajaan dengan tangan gemetar, berpanji naga berkepala tiga, merah berlatar hitam, dengan semboyan Api dan Darah.

Setiap klan terjun dalam pertempuran besar yang dipenuhi kepala-kepala terpancung, kuda bersimbah darah, dan tombak yang mengoyak rongga dada. Strategi dan tipu daya menjadi senjata utama mereka. Klan mana yang akan tampil sebagai penguasa ?

**

Selamat datang di dunia fantasy yang penuh intrik dan konflik yang hebat serta menakjubkan.
Tempat dimana Klan-klan besar saling berebut tahkta, yang tak memedulikan tentang “kebenaran”, “kebohongan”, ataupun “penghianatan.”

Ini adalah novel fantasy berskala besar yang mampu membuat saya merasakan berbagai emosi secara bersamaan. Novel dengan ide yang menakjubkan dan tak biasa. Saya sampai kebingungan bagaimana me-review buku ini. Terlalu banyak menceritakan-nya, nanti dibilang “spoiler”, tapi kalau ulasannya sedikit, nanti dibilang “ulasannya kurang banyak nih!” Heh, serba salah.

Source : here

Namun, saya tidak meragukan lagi kualitas dari cerita dalam novel “A Game Of Thrones” yang sudah diangkat menjadi Serial Televisi HBO Terpopuler di Dunia ini. Ceritanya menakjubkan. It’s Great. Apalagi film “A Game of Thrones” sendiri sudah mencapai season 5 (Dan saya belum pernah menonton filmnya, sama sekali >.<) Sebagaimana yang diketahui, serial “A Game Of Thrones” disutradarai oleh George R.R Martin a.k.a penulisanya sendiri dan dibintangi oleh Peter Dinklage (Tyrion Lannister), Lena Headey (Cersei Lannister), Nikolaj Coster Waldau (Jaime Lannister), Michelle Fairley (Catelyn Stark), Richard Madden (Robb Stark), Sophie Turner (Sansa Stark), Maisie Williams (Arya Stark), Issac Hempstead-Wright (Bran Stark), Kit Harington (Jon Snow), Emilia Clarke (Daenerys Targeryen), Iain Glen (Jorah Mormont), Jack Gleeson (Joffrey Baratheon), Rory McCann (Sandor Clegane), Aidan Gillen (Petyr Baelish), Alfie Allen (Theon Greyjoy).

Karena saya termasuk pembaca baru dari novel karya George R.R Martin ini, jadi saya hanya akan mengatakan kelebihan dan kekurangan dalam buku ini. Dan kelebihan serta kelemahan dalam buku ini adalah penggunakan tokoh-tokohnya yang seabrek. Iya, bener-bener seabrek alias buanyyak banget tokoh dalam A Game Of Thrones ini yang mungkin akan membuat kalian bingung.
+ Karena banyaknya tokoh yang dihadirkan penulis, konflik dalam novel ini jadi bervariasi dan tidak terpusat pada konflik tokoh utama saja.
+ Untungnya penulis mampu menonjolkan satu per satu sifat para tokohnya, sehingga pembaca tak akan berasa dibebani dengan banyaknya tokoh.
+ Saya suka penggambaran karakter tokoh-tokoh dari novel ini. Memang karakter-karekter para tokohnya tidak dijelaskan secara gamblang di bagian awal, namun melalui teknik show don’t tell, di sepanjang cerita, saya dapat menemukan bagaimana karakter mereka.
+ Penulis berhasil membuat pembaca (khususnya saya) merasakan setiap emosi yang dihadirkan. Jujur, dalam beberapa bab, saya sempat menangis karena kuatnya emosi yang disuguhkan penulis melalui tokoh-tokohnya.
+ Cerita-nya tidak membuat saya bosan membalikkan halaman demi halaman sampai akhir. Novel ini masuk kategori novel porsi besar dan buku bantal. Kenapa porsi besar dan buku bantal ? Novel ini memiliki 948 halaman, yang akan membuatmu dapat menghabiskannya dalam berhari-hari bahkan minggu. Dan saya akan merasa salut kalau ada orang yang mampu menghabiskan buku ini dalam satu hari #haha. Hiraukan saja kicauan nggak penting saya.

Tentunya jika ada kelebihan, ada juga kekurangannya.
- Meskipun beberapa kali penulis menyajikan konflik untuk membangun suasana, namun saya merasa konfliknya kurang tajam dan terkesan biasa.
- Bagi pembaca yang tidak suka narasi yang panjang-panjang, kemungkinan akan sulit menikmati karya luar biasa ini. Karena memang, novel ini menghadirkan narasi yang panjang merobek mata.
- Ukuran font size untuk novel ini juga terlalu kecil. Kalian harus benar-benar melek untuk baca cerita dalam novel ini. Mungkin karena penerbit ingin membatasi jumlah halamannya yang barangkali kalau font-nya agak besar akan membuat novel ini semakin tebal juga. (Font size kecil aja sudah mencapai 948 halaman, bagaimana kalau font-nya lebih besar lagi? Ough…saya tidak bisa membayangkannya)
- Dan yang terakhir adalah saya masih menemukan typo. Beberapa typo yang mengganggu momen-momen indah saya dalam membaca buku ini. Contoh ada dihalaman 197, 240, 307, dsb. Beberapa kesalahan itu seperti tidak adanya spasi.

Source : here

Tokoh favorit saya dalam novel ini adalah Jon Snow. Pria yang hebat, tidak mudah menyerah. Dia adalah dirinya; Jon Snow. Ia cerdas, pikirannya setajam pedangnya and he is a good man.

Tapi dalam novel ini, laki-laki yang baik pun nggak cukup untuk bertahan di antara pengkhianatan dan kekuasaan. Dan dalam novel ini saya tahu bahwa semakin banyak orang baik yang ada di pihakmu, kau tak pernah tahu bahwa ada lebih banyak lagi (bisa berkali-kali lipat) orang yang tidak menyukaimu, yang akan berusaha untuk menjatuhkanmu dari segala penjuru.

Terlepas dari itu semua, novel ini terasa hampir sempurna untuk saya yang termasuk penyuka genre fantasy. Yahh….harapan terakhir adalah semoga seri kedua-nya segera terbit ^-^

4 komentar:

  1. sering denger tentang ini sih,
    katanya banyak scene sedarahnya ni..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup bener. Berdarah-darah, wkwk

      Hapus
  2. Tunggu sampai buku2 selanjutnya. Konfiknya bakal lebih seru dan bikin pengen gigit bantal.. :p

    BalasHapus
  3. Udah baca buku ini? Wow, aku saja belum selesai. Menurutku Game of Thrones versi novel sama tv seriesnya sama-sama bagus. Memang sih aku sendiri belum nonton langsung serinya, tapi dengar-dengar dari kicauan grup pecinta buku ini Game of Thrones versi film sama serunya dengan yang di buku.

    Sejauh ini aku masih memfavoritkan karakter John Snow, kalau kamu?

    Kalau udah selesai baca ini, coba lanjut baca sequelnya yang baru terbit beberapa bulan lalu deh, Clash of King x)

    BalasHapus