[Review] Love Puzzle

on Kamis, 05 Februari 2015




Judul : Love Puzzle
Nama Penulis : Eva Sri Rahayu
Penyunting : Ifnur Hikmah
Penyelaras Aksara : Novia Fajriani & Anisa
Penata Aksara : Nurul & Anisa
Perancang Sampul : Fahmi Ilmansyah
Penerbit : Noura Books
Tanggal Terbit : November 2013
Edisi : Cetakan Pertama
ISBN : 978-602-1606-04-9


 “Kesendirian menyadarkannya akan arti kehilangan. Bukan kehilangan biasa, tetapi belahan jiwa.” (hlm. 125)

Love Puzzle bercerita tentang gadis bernama Risa. Gadis yang tidak takut dengan hantu, pribadi yang suka memotret, dan mudah bergaul. Kesenangannya dalam mengabadikan setiap tempat membuatnya menemukan spot yang bagus untuk memotret. BIM (Bandung Indah Mall) adalah tempat yang baru-baru ini dikunjunginya, yang membuatnya bertemu dengan Raja.

Keanehan demi keanehan saya temukan disini. Dan yang saya tahu keanehan itu menjurus ke tokoh Raja. Terbukti ketika Risa bertemu kembali dengan Raja di lapangan basket indoor tempat latihan klub basket professional untuk memotret temannya—Reta. Disana, Raja berkata bahwa ia tidak mengenal Risa.

Raja yang ia temui di atap BIM dan Raja yang ia temui di lapangan basket itu terlihat seperti dua orang yang berbeda. Kadang baik, kadang bisa juga menyebalkan. Risa bahkan berkata bahwa Raja memiliki seribu kepribadian, tanpa menyadari bahwa sebenarnya banyak misteri dibalik itu semua. Pertemuannya dengan Raja di atap BIM pun tanpa disadari menyeret Risa pada masa lalu yang kelam, penuh akan tangis dan luka.

Setelah berjumpa dengan si kembar Ares dan Orion, Jae In dan Jae Kwon, kini saya berjumpa lagi dengan si kembar Iskandar dan Alexander. Yang lagi-lagi buat saya nangis.

Ada banyak adegan flashback yang disajikan oleh penulis. Terutama flashback tentang Raja di bagian tengah cerita yang membuat saya terkejut, dan berpikir bahwa puzzle-puzzle yang ditebarkan oleh penulis memang hanya akan terangkai dan membentuk gambar jika kita sampai di halaman terakhir.

“Kenangan, kadang terasa lebih nyata dari kenyataan. Seberapa pun besarnya perjuangan membuat kenangan itu jadi nyata, kenangan hanya hidup dalam ingatan.” (hlm. 68)

Setelah bertemu dengan sosok Raja yang misterius, Risa bertemu dengan Ayara. Gadis yang digambarkan seperti boneka kaca, transparan, rapuh, pucat dan mucah pecah, yang membuat setiap orang harus berhati-hati memperlakukannya.

Saya merasa novel ini lebih menitikberatkan pada kejadian masa lalu yang dialami oleh Raja dan Ayara yang melibatkan Risa didalamnya. Konflik yang disajikan penulis pun berkaitan dengan masa lalu. Tentang permasalahan yang sering dihadapi oleh anak kembar.

“Kalian selalu membandingkan kami, membuat kami seolah-olah siapa yang lebih menurut lebih kalian sayangi. Perbandingan itu membuat kami hidup seperti kompetisi.” (hlm. 185)

“Tanpa sadar, perbandingan dari orangtua memunculkan rasa ingin lebih unggul, walaupun mereka saling mencintai. Ada rasa sakit sekaligus bangga setiap kali salah satunya dipuji atau dijatuhkan. Dunia mereka memang berbeda, dunia yang tidak dipahami orang lain. Mereka selalu bersama, berbagi segalanya. Dalam hidup mereka tak ada yang menyakiti, hingga berbagi cinta dan imajinasi. Tidak ada yang menjadi bayangan dan sinar.” (hlm. 142)

Membaca novel ini saya merasa seperti penulis seakan-akan memang sedang menguji emosi para pembacanya. Why? Karena berulang kali saya ingin marah dan nangis dalam waktu bersamaan. Marah karena konflik yang dihadapi anak kembar memang benar dan selalu begitu. Menangis karena anak kembar sering kali menerima perlakuan yang tidak adil. Jangan tanya kenapa saya bereaksi seperti itu. Karena saya sendiri juga kembar. Saya bahkan lebih bisa merasakan apa yang tokoh-tokoh dalam novel ini rasakan karena saya memang pernah mengalaminya.

Oke, stop ! Fokus.
Novel ini sarat akan pesan. Novel ini juga menyadarkan kita akan pentingnya ketulusan, kebersamaan, kehilangan, luka dan cinta. Tentang rumitnya kisah cinta remaja yang masih terbelenggu akan masa lalu. Juga tentang konflik anak kembar yang penuh akan luka.

“Begini rasanya kehilangan bahkan ketika tidak pernah memiliki.” (hlm. 140)
“Cinta dilahirkan, bukan diciptakan. Cinta bukan ‘tidak harus memiliki’, tetapi memang ‘tak semua cinta bisa memiliki’ ”. (hlm. 234)

Sebelum mata saya kembali memanas dan perih, saya ingin mengatakan satu hal untuk kalian. Pesan ini saya dapat dari sang penulis di akhir halaman.

“Untuk semua anak kembar, bersinarlah dengan warna kalian masing-masing.”

Trust me! Kalian harus baca buku ini. So, saya rasa 4 bintang pantas didapatkan oleh novel ini.
 

6 komentar:

  1. Ihh...saya suka sama buku ini. Cerita anak kembarnya mengesankan *Ups..spoiler^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. haha, cerita anak kembarnya emang bagus

      Hapus
  2. Kayanya seru nih, udah kangen baca buku romance :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saranku sih segera bca bku romance aja, biar kangennya terobati. wkwk^^

      Hapus
  3. Udah pernah baca nih. Ceritanya bagus banget. Menyentuh gitu :)
    Konflik anak kembarnya bener-bener kerasa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju nih. Konflik-nya mengesankan

      Hapus