[Blog Tour] Winner Announcement

on Kamis, 09 April 2015


Siapa yang sudah menunggu pengumuman pemenang di blog saya ?

Sebelumnya, terimakasih untuk teman-teman yang sudah sabar menantikan pengumuman ini. Saya sengaja mengambil waktu 3 hari untuk menilai. Akhir-akhir ini saya masih disibukkan dengan aktivitas belajar #CeritanyaCurhatNih

 

Akan ada 2 pemenang dalam Blog Tour kali ini. Saya sudah memilih nama-nama pemenangnya dengan pertimbangan yang amat ketat. Bingung juga sebenarnya, sampai-sampai saya meminta bantuan kakak saya untuk ikutan menjadi juri.

 

Saya menilai dari segi jawaban dan komentar mereka di review saya. Terimakasih atas saran, kritik dan masukannya terhadap review saya. Semoga saran, kritik dan masukan kalian menjadi suntikan semangat saya untuk mereview dengan lebih baik lagi.

Dan 2 nama pemenang itu adalah....

 

Jrengg...jrengg...jrengg...jrengg....

 

Congrats :

Annisa Salvia
@NiisNisaa_

 

Hendra Budi Gunawan

@henker_gunawan

 

Untuk para pemenang, silahkan kirim data diri berupa nama lengkap, alamat, dan no.hp kalian ke email saya ranydwi11(at)yahoo(dot)co(dot)id

 

Saya tunggu emailnya dalam waktu 2x24 jam. Kalau tidak segera merespon, saya akan memilih pemenang yang lain.

 

Untuk teman-teman yang lain, terima kasih atas partisipasinya. Jangan lupa untuk mengikuti Kuis Finale yang akan diadakan oleh Penerbit Haru. Simpan baik-baik potongan huruf yang saya post disini.


[Review] Mantra Asmara

on Rabu, 08 April 2015


Judul : Mantra Asmara
Nama Penulis : Usman Arrumy
Penyunting : Dian Nafi
Desain Sampul : Muhammad Hidayatullah
Produser : Adi Sutanto
Tata Letak : Ahmad Ghoseen A.
Penerbit : Hasfa Publishing
Tanggal Terbit : April 2014
Edisi : Cetakan Pertama
ISBN : 978-602-7693-10-4

Semesta Utopia
Jika kau hendak tahu definisi Masalalu
baca dan simaklah keseluruhanku sebagai rindu
lekas akan kautemu pemahaman baru bahwa,
kenangan selalu menawarkan duka yang purna

Tak usah khawatir hanya karena tak diabadikan takdir
Sajakku tak bakal berakhir memujamu di satu anasir
Ia akan tetap terbaca bahkan seribu tahun sepeninggalanku
: Menjadi dongeng paling sedih untuk meninabobokan zuriahmu

Tetaplah tersenyum agar ada yang selalu bisa kuperjuangkan
Sebab mungkin puncak ketakutanku adalah saat kau berlinangan

Dan malam, aku betah meratapi malam
Wilayah yang sering kukunjungi sebagai masa silam
Sebab di sana selalu terdapat wajahmu terserak
Di antara guguran cahya gemintang yang semarak

Maafkan bahwa aku masih merasa bahagia;
Menghayati setiap bagian dari dirimu sebagai hysteria
Maafkan bahwa mungkin aku tak sanggup lupa;
Pada senyummu ketika terakhir kali kita jumpa

Kau tertidur dan mimpi tentang yang bukan aku
Aku terjaga dan mendamba yang bukan dirimu
Kau dan aku mengada hanya di Semesta Utopia
: Ketabahan yang berjihad melawan trauma

Puisi diatas adalah salah satu puisi favorit saya yang ada di dalam novel “70 selected poems Mantra Asmara” ini. Bicara soal puisi, ini pertama kalinya saya membaca novel kumpulan puisi. Termasuk hal baru bagi saya.

Rasanya tidak akan pernah habis kata jika kita membicarakan tentang cinta, karena cinta adalah hal lumrah yang ditemui dalam kehidupan manusia. Apalagi jika kata-kata itu dikemas dalam bentuk puisi.

Dalam buku “70 selected poems Mantra Asmara” ini penulis menyuguhkan 70 puisi yang berkaitan dengan cinta. Tema yang memang digemari banyak orang. Cinta, bahasa ajaib yang selalu memuncaki peradaban manusia.

Bicara soal puisi, jujur saja saya bukan penikmat puisi. Dan membaca buku ini adalah hal baru bagi saya. Penggunaan diksi-nya menurut saya luar biasa. Sehingga menciptakan sebuah hasil karya yang mampu menggetarkan hati.

Penulis mampu meramu satu kata dengan satu kata yang lain hingga menjadi kalimat yang indah untuk dibaca. Namun, efek-nya adalah kadang saya dibuat pusing juga karena kurang mengerti dengan arti atau maksud dari puisinya, mengingat penggunaan diksinya yang terlalu banyak mengumbar mutiara.

Saya akui membuat sebuah puisi itu tidak mudah. Kalau kita tidak mahir menggabungkan satu kata dengan satu kata lainnya / kurang mengerti tentang unsur-unsur dalam puisi, puisi yang dibuatpun tak akan memberikan kesan bagi para pembacanya.

Menurut saya jenis puisi yang dihadirkan oleh penulis dibuku ini masuk pada tingkat usia dewasa mengingat beberapa isi dan gaya penulisannya lebih condong pada konflik-konflik cerita cinta orang dewasa. Meskipun begitu, melalui puisi-puisi ini saya berhasil merasakan emosi yang coba dihadirkan oleh penulis. Bukan hanya emosi kegembiraan namun juga emosi kesedihan, kerinduan serta hati yang terluka karena derita asmara.




[Review] Girls In the Dark

on Selasa, 07 April 2015

 Judul : Girls In The Dark
Nama Penulis : Akiyoshi Rikako
Penerjemah : Andry Setiawan
Penyunting : Nona Aubree
Proofreader : Dini Novita Sari
Design Cover : Kana Otsuki
Ilustrator : @teguhra
Penerbit : Haru
Tanggal Terbit : Mei 2014
Edisi : Cetakan Pertama
ISBN : 978-602-7742-31-4

"Perasaan dan kepekaan kita adalah yang paling penting, kan ? Itu adalah hal yang paling penting yang harus dilindungi lebih dari apapun! Karena itu kita harus bisa membunuh diri kita sendiri, atau dibunuh oleh orang lain…. Persahabatan gadis-gadis selalu ada di ujung tanduk. Pertahanan hidup yang mempertaruhkan nyawa." –hal. 17

SMA Katolik Putri Santa Maria memiliki sebuah Klub Sastra yang selalu melakukan pertemuan rutin di setiap akhir semester yaitu yami-nabe yang secara harafiah berarti “panci dalam kegelapan”. Semua peserta akan memasukkan bahan-bahan aneh yang mereka bawa ke dalam panci dan semua orang harus memakannya dalam kegelapan. Sambil menikmati yami-nabe, mereka akan mendengarkan anggota lain membaca cerita pendek yang telah mereka tulis. Biasanya tema yang diambil bebas. Namun kali ini berbeda. Tema yang diambil oleh Sumikawa Sayuri sebagai Ketua Klub Sastra yang baru dalam pertemuan ke-16 Klub Sastra Putri Santa Maria adalah kematian Ketua Klub sebelumnya, Shiraishi Itsumi.

Sayuri dan Itsumi adalah sahabat baik. Mereka adalah sosok yang bertolak belakang. Itsumi adalah gadis yang aktif dan tidak tahan untuk tidak membeli sesuatu dengan hitam atau putih. Sementara Sayuri seperti hidup dengan dilindungi oleh bayangan Itsumi. Tubuh Sayuri pun tidak terlalu sehat sejak lahir. Sejak Itsumi tiada, separuh tubuh Sayuri seperti direnggut.

Kematian Itsumi penuh dengan misteri. Tidak ada seorangpun yang diizinkan untuk menghadiri pemakamannya dan tidak ada seorangpun yang mau memberitahu apa yang sebenarnya terjadi. Ada gossip yang beredar bahwa salah seorang di antara anggota Klub Sastra adalah pembunuhnya.  Lalu kenapa jasad Itsumi terkapar di bawah pot ? Kemudian, kenapa Itsumi meninggal sambil menggenggam bunga lily ? Apakah itu semacam pesan kematian ? Tidak ada yang tahu, semuanya masih menjadi misteri. Maka dari itu Sumikawa Sayuri meminta anggota Klub Sastra yang lain menceritakan kejadian kematian Itsumi dari sudut pandang mereka masing-masing. Dan inilah cerita pendek yang ditulis oleh anggota Klub Sastra yang lain :

1.   Nitani Mirei
Anggota Klub Sastra yang berhasil sekolah di SMA Putri Santa Maria karena beasiswa. Dari sudut pandang cerita pendek yang ia buat, ia menuduh yang membunuh Itsumi adalah perempuan dengan harum bunga lily, yang tak lain dan tak bukan adalah Koga Sonoko.
2.   Kominami Akane
Anggota Klub Sastra yang suka memasak dan bertanggung jawab menyediakan kudapan saat acara Klub berlangsung. Dari sudut pandang cerita pendek yang ia buat, ia menuduh yang membunuh Itsumi adalah Nitani Mirei.
3.   Diana Detcheva
Seorang siswi Internasional yang berasal dari Bulgaria. Dari sudut pandang cerita pendek yang ia buat, ia menuduh yang membunuh Itsumi adalah Takaoka Shiyo.
4.   Koga Sonoko
Teman sekelas Itsumi. Seorang siswi yang memiliki cita-cita ingin menjadi seorang dokter. Dari sudut pandang cerita pendek yang ia buat, ia menuduh yang membunuh Itsumi adalah Diana Detcheva.
5.   Takaoka Shiyo
Anggota Klub Sastra yang sudah menjadi seorang penulis professional. Dari sudut pandang cerita pendek yang ia buat, ia menuduh yang membunuh Itsumi adalah Kominami Akane.

Awal-awal membaca novel ini, kita akan dibawa kedalam sudut pandang seorang gadis bernama Sumikawa Sayuri. Di awal bab ini kita akan menemukan flashback dari kisah persahabatan Sumikawa Sayuri dan Shiraishi Itsumi. Memasuki bab 2 sampai 6 kita akan dibawa kedalam sudut pandang para anggota Klub Sastra. Dan saya mulai menebak-nebak, “Ini sebenarnya masuk kategori novel thriller, horror apa detektif ?” Namun setelah membaca bab salam pembuka dan penjelasan peraturan yami-nabe di bagian akhir, saya mulai mengerti.

Menurut saya novel ini mencakup genre thriller, horror dan detektif. Novel ini bercerita tentang analisis kematian seorang Ketua Klub Sastra Shiraishi Itsumi dari sudut pandang masing-masing anggotanya melalui cerita pendek. Idenya benar-benar masih fresh. Sebelumnya saya belum menemukan novel dengan cara penulisan seperti Girls In the Dark yang mampu membuat kepala saya pusing^^. Saya juga tidak menyangka isi cerita akan disuguhkan dengan cerita pendek yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya.

Disepanjang cerita saya mulai menebak-nebak. Siapa pembunuh sebenarnya ? Ketika saya menebak bahwa si "A" lah pembunuhnya, teori saya langsung dipatahkan ketika saya membaca cerita pendek lainnya. Saya ragu-ragu dan mulai berpikir kalau pembunuhnya bukan si "A", melainkan si "B". Namun, lagi-lagi teori akan tebakan saya dipatahkan kembali dan begitu seterusnya sampai  saya merasa pusing memikirkan siapa sebenarnya pelaku pembunuhan tersebut.

Penulis benar-benar mampu mengombang-ambingkan pemikiran pembaca akan pembunuh yang sebenarnya. Benar-benar sempurna. Dalam cerita pendek yang dibuat oleh para anggota Klub Sastra, mereka terlihat saling menuduh satu sama lain. Alur dari cerita pendeknya juga berurutan. Para pembaca dibuat kesulitan untuk menebak siapa pembunuh yang sebenarnya sebelum ia sampai diakhir cerita.

Saya suka penjabaran penulis akan setting-nya. Ya, salon Klub Sastra digambarkan dengan begitu jelas. Sebuah chandelier yang terbuat dari kristal hitam Baccarat yang berkilauan tergantung di atap yang tinggi. Karpet dan wallpaper berwarna lavendel yang empuk. Tirai gantung dari beledu hitam yang menghiasi jendela ala Prancis. Sofa antik buatan luar negeri yang kainnya dipintal menjadi sebuah tapestry. Rak buku yang menutupi salah satu dindingnya. Buku-buku dari luar negeri pun tampak berjajar lengkap. Peralatan dari merek-merek terkenal dan mahal seperti Ginori dan Wedgewood yang tertata rapi di dalam kabinet.

Ada perbedaan yang begitu menonjol dari cara penulisan cerita pendek di antara sesama anggota. Cara penulisan Takaoka Shiyo berbeda dengan yang lainnya. Penggunaan bahasanya lebih ringan. Sementara yang lain saya rasa sama saja, sehingga saya kurang begitu memahami perbedaan sifat/karakter tokoh-tokoh lainnya.

Dan untuk endingnya, benar-benar membuat saya terkejut.

“Yang bisa menjadikan seorang tokoh utama menjadi tokoh utama adalah…peran pembantu. Bukan peran pembantu yang sembarangan, tapi peran pembantu yang tahu posisinya akan membuat pesona tokoh utama menonjol. Selain itu, dia tidak akan berusaha menjadi lebih menonjol daripada tokoh utama.” –hlm.226

Untuk kekurangannya, saya rasa hampir tidak ada cacat. Saya tidak menemukan kekurangan yang begitu menonjol. Terjemahannya juga bagus. Alurnya sedikit membingungkan namun menarik. Overall, novel ini sangat bagus + cocok untuk menemani para pembaca di akhir pekan *Yeyy \(^-^)/ 3.5 Bintang untuk novel ini.

"Kalau kau ingin menggerakkan orang sesuai dengan kehendakmu, genggamlah rahasianya….” –hal.237