[Wrap Up] Orizuka Book Reading Challenge 2014

on Sabtu, 27 Desember 2014




Yeyy…nggak kerasa udah akhir tahun. Nggak kerasa juga sudah berhasil menyelesaikan satu-satunya reading challenge yang saya ikuti. Awalnya sempat ragu bisa nggak ya menyelesaikan orizuka reading challenge ini, mengingat saya tahu informasi tentang reading challenge ini 2 bulan sebelum berakhir. Jadi di waktu dua bulan itu akhirnya saya bisa melahap beberapa tumpukan buku kak Orizuka yang ada di rak buku. Diantaranya :
Say…alhamdulilah. Terimakasih juga sama kak Lucky yang udah ngadain reading challenge ini. Semoga tahun depan ada reading-reading challenge yang lain ya kak^^

Review #19 Oppa & I : Love Signs





Judul : Oppa & I : Love Signs
Nama Penulis : Orizuka & Lia Indra Andriani
Penyunting : NyiBlo
Proofreader : Dini Novita Sari
Desain Cover & Ilustrasi : Angelina Setiani
Penerbit : Haru
Tanggal Terbit : Desember 2013
Edisi : Cetakan Pertama
ISBN : 978-602-7742-27-7

Sinopsis :
Jae In :
Oppa.
Apa yang sedang terjadi?
Kenapa hidupku jadi serumit ini?
Kenapa aku tak bisa memahami perasaanku sendiri?

Jae Kwon :
Jae In-a.
Oppa pernah bilang kan, kalau Oppa akan selalu ada untukmu?
Jadi, kenapa kau harus menyimpannya sendiri?
Ada oppa di sini!

“Kau tahu kan kalau perasaan anak kembar sangat peka. Kalau kau terluka, oppa ikut sakit. Kalau kau sedih, oppa juga bisa merasakan kesedihanmu.” (hlm. 173)

Nggak kerasa udah sampai di seri ketiga Oppa & I. Nggak kerasa juga ini pertemuan terakhir saya dengan si kembar Park. Senang rasanya saya bisa me-review buku yang banyak mengulas karakter anak kembar beserta konflik-konfliknya di buku Oppa & I berseri ini.

Awal cerita dibuka oleh kejutan dari sang penulis. Di buku sebelumnya telah diceritakan tentang tokoh Seung Won yang sudah menjadi aktor. Yang sudah menjadi idola baru di Korea. Digilai banyak wanita. Juga memiliki fans yang banyak. Namun, karena masalah keluarga yang pernah dialami oleh Jae Kwon dan Jae In, tanpa mereka sadari masalah itu malah kembali menyeret mereka dalam bahaya yang lebih besar.

Jae In, gadis pendiam yang baru membuka hatinya itu mendadak mendapatkan skandal yang membuat heboh seisi sekolah. Skandal tentang dirinya dan Seung Won yang sama sekali tidak benar. Jae In tidak seperti Jae Kwon. Yang sudah terbiasa menjadi sorotan dan perhatian. Yang diinginkan Jae In adalah ingin hidup yang normal, seperti anak-anak seusianya kebanyakan, bersama keluarga dan teman-temannya.

Setelah menjadi aktor pun, Seung Won jarang bertemu Jae In. Sekalinya bertemu, seseorang memotret mereka dan menjadikannya skandal, membuat mereka terasa dekat, sekaligus terasa beribu-ribu mil jauhnya dari kenyataan.

Konflik yang diangkat oleh kedua penulis kembali kepada Jae In. Tentang skandal dan kerumitan perasaannya sendiri. Tentang skandal yang membuatnya kembali menutup diri dan tentang kerumitan perasaannya sendiri yang tidak ia mengerti. Tapi untunglah masih ada Ha Neul, Sa Ra, Tae Jun, Dae Suk serta kakaknya sendiri—Jae Kwon yang membantu, melindungi serta berusaha meredam skandal tak berbobot itu.

Saya senang dengan penggambaran sifat Jae Kwon yang berusaha melindungi adiknya. Benar-benar kakak yang bertanggung jawab. Jae Kwon memang jjang!!

“Kadang cinta tak perlu alasan.” (hlm. 110)
Konflik tentang rumitnya perasaan Jae In yang tidak ia mengerti membuat novel ini semakin berwarna. Saat saya membaca seri Oppa & I yang pertama dan kedua, saya masih belum bisa masuk ke dalam karakter tokoh Jae In. Namun, di dalam seri ketiganya ini saya akui, saya bisa merasakannya. Bahkan saya rasa penggambaran karakternya cukup kuat dibandingkan Jae Kwon.

Selain mengenai skandal, kita akan di ajak jalan-jalan oleh penulis ke beberapa spot yang ada di dalam novel. Busan, Pantai Heundae, Taejongdae, dan Busan Aquarium, misalnya. Kita juga akan tahu tentang hal-hal mengenai korea melalui buku ini. Bahwa seorang fans korea itu kuat. Mereka bisa melakukan apa saja / bahkan sesuatu yang berbahaya jika idolanya digosipkan dengan skandal yang mereka benci.

“Pacaran dengan aktor itu merepotkan. Mereka itu milik umum, tidak bisa menjadi milikmu seutuhnya.” (hlm. 71)

Melalui buku ini saya belajar banyak hal. Tentang persaudaraan, pertemanan, setia kawan, mimpi dan juga tentang cinta.

“Walaupun kita punya pasangan masing-masing, walaupun kita punya jalan berbeda untuk ditempuh, kita akan selalu menjadi kakak dan adik. Selamanya. Oppa dan aku.” (hlm. 202)

Meskipun ending-nya mudah ditebak namun senang rasanya bisa berjumpa si kembar Park yang hebat ini. Yang saling melindungi dan saling menyayangi. Yang saling berbagi duka dan saling memahami. Finally, saya menyematkan 4 bintang untuk seri ketiga Oppa & I.

Jadi kutu buku? Siapa takut!

on Jumat, 26 Desember 2014


"Buku adalah hiburan yang sempurna: tidak ada iklan, tidak perlu baterai, bisa dinikmati selama berjam-jam." (Stephen King)

Kenapa orang yang menyukai buku identik dengan julukan kutu buku, kuper atau apalah itu. Padahal sebenarnya pencinta buku punya segudang informasi yang belum tentu dipunyai semua orang lho ! Pencinta buku bukan orang yang membosankan. Pencinta buku bisa nyambung diajak ngobrol banyak hal dan nggak gampang kehabisan tema obrolan seru.

Saya suka membaca buku baru sekitar satu tahun yang lalu. Bermula dengan sebuah novel fantasy hadiah dari majalah. Saat itulah saya mulai jatuh cinta dengan dunia buku. Membaca adalah kegiatan yang sering saya lakukan. Di waktu-waktu luang misalnya, saya lebih suka berdiam diri di rumah, duduk di sofa dan menikmati membaca buku dibandingkan teman-teman saya yang lebih memilih pergi jalan-jalan keluar bersama pacar atau temannya. Saya lebih banyak menghabiskan waktu untuk membaca, bukankah menghabiskan waktu untuk membaca jauh lebih baik daripada membuang-buang waktu untuk hal yang sia-sia ?

Hobby saya dalam membaca novel ini mulai menjadi candu. Sampai-sampai ibu saya pernah marah karena saya lupa waktu kalau membaca. Tidak ada hari tanpa membaca, bagi saya. Karena dengan membaca buku, saya menemukan ketenangan dan kegembiraan tersendiri. Dan untuk mendukung semua hal itu, setiap hari saya menyisikan uang saku saya. Tentu saja saya tabung untuk membeli buku yang saya incar. Untung saja, saya dan kakak saya memiliki hobby yang sama, jadi saya bisa lebih mudah mengumpulkan uang *hehe. Memiliki teman yang suka membaca itu menyenangkan, selain karena kita memiliki teman yang nyambung saat membicarakan hal mengenai buku, kita juga bisa berdebat tentang buku tersebut. Membicarakan hal yang menarik dan sangat berkesan saat membaca buku adalah kegiatan saya setelah selesai membaca.

Namun, tidak memiliki teman untuk bisa diajak ngobrol tentang buku selain kakak saya itu juga membosankan. Di saat teman sekelas saya sibuk menceritakan hal-hal mengenai pacarnya, gebetannya, kosmetik dan lain sebagainya, saya yang tidak suka dengan hal-hal tersebut memilih untuk diam saja. Jadi, biasanya selama jam istirahat, yang saya lakukan hanya membaca novel yang saya bawa dari rumah. Bahkan, bisa dibilang saya termasuk anak yang pendiam di kelas karena tidak bisa/malas bergabung dengan pembicaraan mereka. Ternyata, saya lebih suka menyendiri dengan soulmate sejati saya. My book.

Sampai suatu ketika, teman saya tiba-tiba melirik novel yang saya baca, lalu mencoba meminjam koleksi buku yang saya punya. Dengan senang hati saya mengiyakannya. Mulai saat itulah saya bertekad ingin menyebarkan virus membaca kepada teman sekelas saya, entah itu novel atau buku pelajaran. Saya ingin aktivitas membaca bisa menjadi salah satu hoby mereka. Bukan hanya main game atau surfing ke internet saja. Miris sekali kan kalau kita lihat anak jaman sekarang yang notabennya anak kecil lebih menyukai bermain game di gadget daripada membaca yang lebih bisa memperluas wawasan.

Apalagi saya pernah membaca melalui suatu postingan bahwa seorang pembaca itu sebenarnya memiliki banyak keuntungan yang tidak dimiliki oleh orang yang tidak suka membaca.
--Para pembaca adalah orang-orang yang tidak pernah kesepian

--Pembaca memiliki sudah pandang yang lebih luas, pemikirannya lebih luwes dan terbuka, sekaligus lebih stabil.

--Pembaca adalah orang-orang yang lebih bijaksana. Fakta ini sudah tidak perlu diperjelas lagi. Membaca = belajar bijaksana.


--Pembaca bisa "hidup" dalam ribuan kehidupan tanpa harus mengalaminya secara langsung.


--Seorang pembaca biasanya lebih paham dan mampu memahami berbagai karakter manusia dalam kehidupan nyata.


--Pembaca mendapatkan hiburan yang murah dengan membaca buku. Ingat, membaca itu tidak harus membeli. Boleh pinjem atau nodong.


Kita sudah banyak tahu bahwa membaca sangat bermanfaat. Terutama untuk meluaskan pandangan, memperlebar cakrawala dengan mengunjungi pelosok dunia, bepergian ke mana saja, berpetualang menempuh bahaya, bertemu naga, tanpa harus beranjak dari sofa.


"A reader lives a thousand lives before he die." (George R.R Martin)

Yup…betul banget. Seorang pembaca itu bisa hidup dalam 1000 kehidupan sebelum ia mati. Kita akan dibawa kedalam berbagai zaman yang berbeda saat membaca buku. Melakukan petualangan yang berbahaya dan memetik setiap pesan yang disampaikan dalam buku tersebut. Banyak hal menarik sekaligus mengejutkan yang akan kita dapat melalui buku. Kita bisa menjadi seorang malaikat, pembunuh berantai, detektif, penyihir, anak orang kaya, dll. Kita juga bisa bertemu dengan orang-orang yg mustahil ada di kehidupan nyata. Banyak pelajaran hidup yang akan kita dapat hanya dari sebuah buku. Jadi bisa dibayangkan kalau kita banyak membaca buku, maka kita juga akan mendapat banyak pelajaran hidup.

"Bacalah buku dari sudut pandang yang berbeda."

Jangan hanya membaca buku dengan menikmati alur ceritanya saja. Tapi kita juga bisa menikmati buku dengan mencermati cara penulis membuat alurnya sehingga kita selalu hanyut dalam cerita. Teliti dan pahami. Apalagi kalau kita bisa me-review atau me-resensi-nya setelah selesai membaca. Kita bisa kembali menulis garis besar dari sebuah novel untuk kita bagi dengan orang lain. Jadi menambah wawasan banyak orang kan ? Karena sebelum membeli buku, biasanya orang akan berpatokan dulu dari beberapa resensi atau review tentang buku itu sendiri, selain melihat dari cover dan blurb-nya.

Apa teman bacamu ?
Karena saya tidak suka sendiri kalau membaca, jadi saya punya teman baca. Selain hobby membaca, saya juga hobby mengumpulkan quotes yang saya temukan di setiap novel. Jadi teman baca yang harus ada di samping saya adalah bolpoin, memo box dan laptop. Kenapa harus ada laptop ? Hehe, karena akhir-akhir ini saya suka me-review, jadi sambil membaca sambil me-review. Kadang saya juga ditemani oleh segelas jus atau snack, tapi ini hanya teman sampingan saja *hehe.



Kembali dengan pengalaman saya dalam menyebarkan virus membaca di kelas saya, sedikit demi sedikit banyak teman saya yang mulai tertarik untuk membaca. Bahkan ada seorang teman saya yang sampai rela meminjam buku langsung ke rumah saya demi ingin melihat koleksi dari buku-buku saya. Saya mah senang-senang saja. Dan setelah itu, teman saya yang lain mulai ikut-ikutan. Berbeda dengan saya yang bisa langsung melahap hanya dalam satu hari, teman-teman saya bisa memakan waktu hampir seminggu hanya untuk satu buku *dan itu kadang membuat saya khawatir, kalau bukunya nanti tidak dikembalikan.

Sampai suatu ketika, ada teman cowok saya yang juga ikut-ikutan pinjam novel saya dan tentu saja itu membuat saya terkejut. Awalnya, dia cuma iseng, baca novel yang saya letakkan di meja saya. Mungkin karena ceritanya yang bagus, ia mulai ketagihan. Dan itu tertular kepada teman sebangkunya. Mereka sama-sama menyukai novel itu. Sampai-sampai pernah adu mulut karena rebutan pengen baca. Ughh…saya jadi terharu. Ketika salah satu dari mereka selesai membaca, anak cowok teman saya itu berulang kali bilang “Gila, bukunya keren. Bener-bener keren.” Entah berapa kali dia bilang kalau buku itu ‘Keren’ kepada saya, dan saya senyum-senyum aja. Jadi lewat kejadian itu saya nggak lagi di bilang penyendiri atau apalah.

"Keep reading! It's one of the most marvellous adventures that anyone can have." (Lloyd Alexander)

Saya juga sudah nggak takut lagi di bilang kutu buku. Kenapa harus takut kalau menjadi seorang pembaca itu memiliki banyak keuntungan dan kebahagiaan ? Kutu buku itu keren lho! Trust me ! So, jadi kutu buku? Siapa takut!


Link sumber : https://www.facebook.com/penerbitdiva
Link Gambar 1 : http://yoppyheddy.wordpress.com/2012/05/04/lembaran-cinta-usang/
Link  Gambar 2: http://www.thequotepedia.com/quotes/books/page/13/
Link Gambar 3:  http://www.pinterest.com/pin/428756826998661386/

http://vitobuku.blogspot.in/2014/12/bingkisan-cinta-baca-sebuah-giveaway.html

Review #18 That Summer Breeze

on Kamis, 25 Desember 2014



Judul : That Summer Breeze – Beri aku kesempatan kedua
Nama Penulis : Orizuka
Penyunting : Ria Dahlianti
Perancang Sampul : Opung
Penata Letak : Niken Pratiwi
Penerbit : Puspa Populer
Tanggal Terbit : 2013
Edisi : Cetakan Pertama
ISBN : 978-602-9397-64-2

Sinopsis :
Sejak Reina memutuskan sekolah di Amerika, Ares dan Orion tidak tahu lagi kabar gadis berkepang dua itu. Ia menghilang begitu saja tanpa kabar. Padahal, sudah berjanji bertemu lagi untuk membuka surat permohonan yang mereka buat 10 tahun lalu.

Ares menganggap Reina sudah mengkhianati janjinya. Ia tidak mempercayai gadis itu lagi. Ares tidak ingin mencari tahu keberadaan Reina, apalagi menunggunya. Hanya Orion yang masih semangat menanti kedatangan Reina. Sejak ia menerima e-mail yang mengejutkan dan membangkitkan semua kenangan yang terkubur dalam-dalam di otaknya. E-mail dari Reina. Reinanya.

Reina ternyata tidak lupa akan janjinya. Reina juga tak sabar untuk bertemu seseorang. Seseorang yang sangat dirindukannya.

Apa yang terjadi ketika Reina bertemu lagi dengan si kembar Ares dan Orion? Bagaimana cara Reina menghadapai Ares yang skeptis dan emosional, bahkan tidak memedulikannya? Mungkinkah Reina lebih memilih Orion yang cerdas dan jago basket? Ikuti terus kisah seru mereka.

“Walaupun seluruh dunia udah berpaling dari kamu, kamu harus yakin, kamu bakal nemuin aku sebagai satu-satunya orang yang masih menghadap kamu.” (hlm. 110)

Saya kembali menemukan seorang penulis yang menggunakan tokoh kembar. Yupp…That Summer Breeze. Untuk kedua kalinya kak Orizuka menggunakan tokoh kembar, setelah Oppa & I. Kadang saya sedikit bingung, akhir-akhir ini saya banyak menemukan penulis yang menggunakan karakter tokoh kembar. Well, memang saya rasa tokoh kembar dengan kepribadian yang berbeda akan menjadikan konflik dari suatu cerita menjadi menarik.

Wait, soal Ares, That Summer Breeze ini menceritakan tentang si kembar Ares dan Orion yang memiliki dua kepribadian yang berbeda.
Ares—penyuka musik rock, suka berkelahi, karakternya disini digambarkan sebagai anak yang naughty, kacau, dan bodoh.
Orion—cerdas, jago basket, karakternya disini digambarkan sebagai anak yang penurut dan selalu bisa membanggakan orang tuanya.

Mereka adalah dua tokoh kembar yang saling membenci satu sama lain. Dalam hal ini saya tidak tahu alasan mereka saling membenci. Atau sebenarnya memang ada penjelasan di dalam novel ini tapi saya lupa (>_<) *Maafkan ingatan saya yang buruk.

Ada juga sosok Reina yang digambarkan sebagai teman masa kecil Ares dan Orion. Berbeda dengan Orion yang selalu berharap akan kedatangan Reina untuk menepati janjinya sepuluh tahun lalu untuk membuka surat permohonan mereka, Ares malah memilih untuk tak mempercayai gadis itu lagi. Ia beranggapan bahwa gadis itu tak akan pernah datang lagi. Tak ada yang bisa diharapkan dari masa lalunya.

Ini kedua kalinya saya baca That Summer Breeze. Waktu pertama kali baca novel ini, saya masih bisa mengembangkan imajinasi saya tentang bagaimana rupa tokoh-tokohnya, namun setelah melihat film dari novel ini sendiri dan sekarang dibaca untuk yang kedua kalinya, imajinasi saya jadi mentok di imajinary cast dari film-nya.

Konflik yang disajikan penulis benar-benar kuat. Dari awal saya sudah merasakan adanya konflik. Tentang pertengkaran antara Ares dan ayahnya yang terjadi hampir setiap hari. Lalu tentang ibu mereka, yang juga sudah terlambat untuk memberi kasih sayang lagi pada Ares. Bahkan ketika kebenaran mengatakan bahwa Ares tidak bersalah, semua orang terlalu gengsi untuk minta maaf.

Ughh…baca novel ini bikin mata saya perih. Bawaannya pengen nangis. Why? Karena ketidakadilan yang Ares dapatkan. Kenapa anak kembar itu selalu dibanding-bandingkan ? Ketika yang satu jatuh, bukannya di beri semangat untuk bangkit lagi, malah dikasih cercaan yang bilang kamu itu bodoh, nggak kayak bla…bla…bla… Bukannya bisa bangkit lagi, yang ada malah down. Kenapa saya bisa bicara seperti itu ? Karena saya pernah mengalaminya. Oke, stop. Fokus!

“Seseorang mengharapkannya. Seseorang melihatnya. Seseorang ingin selalu bersamanya. Seseorang suka padanya.” (hlm. 91)

Awal pertama Reina kembali, Orion senang bukan main, sementara Ares bersikap dingin pada Reina. Yaa…gadis kecil berkepang dua itu akhirnya kembali setelah sepuluh tahun lamanya tepat pada saat ulang tahun si kembar Ares dan Orion. Ia menjelma menjadi sosok gadis cantik dengan rambut panjang yang bergelombang.

Butuh usaha yang keras untuk membuat Ares mau membuka hatinya lagi untuk Reina. Reina bahkan melakukan hal nekat dengan mematikan sebatang rokok di tangannya demi mendapatkan perhatian Ares.

“Susah juga ya ngedapetin perhatian kamu, aku harus menderita dulu.” (hlm. 73)

Ada banyak hal mengejutkan yang saya temui di dalam novel ini, yang membuat saya tak henti-hentinya mengaga. Terkejut sekaligus speechless. Terutama alasan kenapa Ares masih sulit membaca dan terlihat bodoh di mata ayahnya.

Well, saya ingin segera menyelesaikan tulisan ini, kalau terlalu panjang saya khawatir saya akan menangis lagi. Jangan bertanya soal ending-nya kepada saya, karena saya tidak mampu menjawabnya. Tidak, setelah novel ini membuat saya menangis tengah malam dan membuat mata saya bengkak keesokan harinya.
Finally, 5 bintang untuk novel ini.