Judul : The Stolen Years
Penulis : Ba Yue Chang An
Penerjemah : Jeanni Hidayat
Penyunting : M. Noviana
Proofreader : Dini Novita Sari
Cover Designer : Chyntia Yanetha
Ilustrasi Isi : Frendy
Penerbit : Haru
Tanggal Terbit
: Januari 2016
Edisi : Cetakan Pertama
ISBN : 978-602-7742-66-6
Tebal : 348 halaman
Rating : 4,5 dari 5 bintang
Benarkah
waktu dapat mengikis perasaan cinta?
Hal
terakhir yang diingat He Man adalah ia sedang berbulan madu dengan suaminya,
Xie Yu. Namun, tiba – tiba gadis itu terbangun di rumah sakit dan sudah
bercerai. He Man mengalami amnesia dan lupa akan lima tahun terakhirnya.
Ia
tidak mengerti mengapa ia bisa bercerai dari Xie Yu padahal mereka saling
mencintai. Ia tidak mengerti mengapa sahabatnya sekarang malah membencinya.
Ketika
He Man berusaha mengumpulkan kembali kenangan dan ingatannya, ia mulai
menemukan hal – hal yang tidak pernah ia duga sebelumnya.
***
“Nyamankah memiliki perasaan
seperti itu? Padahal sepertinya itu tidak pernah terjadi, tapi kau harus
mengakuinya dan menerima akibatnya.”—Hal. 96
He
Man tidak percaya dengan apa yang dituturkan oleh kakaknya, He Qi bahwa dia dan
suaminya, Xie Yu sudah bercerai setengah tahun yang lalu. Padahal yang He Man
ingat, dia sedang berbulan madu dengan Xie Yu dan mengalami kecelakaan kecil
akibat kecerobohannya. Yang membuat He Man lebih terpukul lagi adalah dia tidak
bisa mengingat 5 tahun masa lalunya.
Kebingungan
He Man kembali bertambah tatkala mengetahui bahwa dirinya masih sangat
mencintai Xie Yu. Lalu, kenapa bercerai saat mereka masih saling mencintai?
Satu
– satunya cara mengembalikan ingatan yang hilang adalah dengan kembali
menjalani hidup di lingkungan yang sangat diingatnya. Dan itulah yang dilakukan
He Man. Demi memulihkan ingatannya yang hilang, dia kembali ke rumah yang
‘sebenarnya’, dimana dia dan Xie Yu pernah tinggal bersama, memulai semuanya
dari awal walaupun tidak lagi bertitle
sebagai “Istri Xie Yu”
Begitu
kembali ke rumah yang sekarang ditinggali sendiri oleh Xie Yu, berbagai fakta
tentang dirinya, membuat He Man terguncang. Dia tidak percaya bahwa ‘He Man
yang sekarang’ memiliki sifat yang bertolak belakang dengan ‘He Man yang dulu.’
“Berapa banyakkah hubungan yang
kandas karena keegoisan, dan berapa banyakkah cinta yang memudar karena
kerakusan?” —Hal. 143
***
Saya
suka dengan ketiga karakter tokoh yang coba di bangun oleh penulis. Saya pikir
kisah ini hanya berpusat dari sudut pandang tokoh He Man saja, ternyata dugaan
saya salah. Penulis juga menghadirkan sudut pandang tokoh Xie Yu dan juga Lily.
Yang akhirnya menghasilkan sudut pandang yang berbeda – beda. Ini merupakan point plus karena penulis memberikan
opsi yang berbeda – beda dengan karakter tokohnya yang memang bertolak
belakang.
Saya
akui penulis memang lihai dalam mengolah kata. Membuat emosi saya serasa diaduk
– aduk. Terjemahannya menurut saya sangat memuaskan. Bahasa yang digunakan
sederhana dan mudah dipahami. Nggak terlalu berat, jadi saya bisa dengan mudah
memahaminya #Maklum agak lola.
Beberapa
orang terjebak disana, bukan karena tidak bisa, tapi kadang tidak mau berusaha
keluar [ MASA
LALU]. Itulah sedikit karakter yang saya tangkap dari sosok Xie Yu. Saya
tahu bahwa sebenarnya Xie Yu masih sangat menyanyangi mantan istrinya walau
bagaimanapun perlakuan He Man lima tahun yang lalu padanya.
Emosi
yang coba dihadirkan penulis benar – benar terasa. Saya bahkan ikut terbawa
kesal juga. Apalagi saat Xie Yu tidak bisa berkata apa – apa ketika Lily marah
dan minta penjelasan atas semua yang terjadi padanya dan mantan istrinya. Wanita
mana sih yang nggak marah melihat pacarnya tinggal serumah dengan mantan
istrinya?
Tapi
disisi lain saya juga bisa mengerti kenapa He Man melakukan hal tersebut,
karena semata – mata hanya ingin mengembalikan ingatannya yang hilang. He Man
sebenarnya juga tahu diri dan mencoba untuk tidak merusak hubungan mantan
suaminya itu dengan pacar barunya.
Dan
Xie Yu, awalnya saya pikir Xie Yu ini tipe laki – laki yang pengecut karena
bimbang akan perasaannya sendiri. Tapi nyatanya saya salah. Pada pertengahan
bab, saya serasa ditampar. Semua pikiran – pikiran buruk saya terhadap Xie Yu
salah. Dia melakukan hal tersebut ( baca
: bungkam ) karena memang menyembunyikan sesuatu. Salah satu hal yang
menyebabkan keretakan rumah tangganya dengan He Man terjadi. Sebaliknya, saya
merasa bersimpati pada Xie Yu. Mampu menahan rahasia seburuk itu sendiri, dan
tidak mengungkapkannya. Memilih memendamnya dan membuat hatinya tersayat –
sayat. Yeah, semacam suami-able banget *salah fokus.
Shock!
Itulah kata buat ngungkapin ekspresi saya setelah baca novel ini. Penulis benar
– benar membuat alur yang kayak roller
coaster! Tiba – tiba dibuat senang, lalu kaget, dan sedih pula. Kayak
permen nano – nano, banyak rasanya.
Gregetan
banget sama endingnya. Gimana ya ngomongnya, takut spoiler. Pokoknya ARRGGHHH… nggak bisa diungkapin pake
kata – kata.
Saya
juga suka dengan cover novelnya. Sweet, berbanding
terbalik dengan isi keseluruhan ceritanya. Dengan begitu, orang akan bertanya –
tanya, cerita apakah yang akan disuguhkan dari cover novel yang begitu sweet
ini. Salut buat Cover designer yang
sudah membuat sampul novel The Stolen Years ini begitu perfect!
Untuk
kalian yang percaya bahwa waktu bisa mengikis perasaan cinta atau sebaliknya,
mengembalikan keutuhannya. Buat kalian yang ingin tahu arti sebuah kesetiaan,
buku ini sangat pantas untuk kalian baca. Resapi setiap makna yang ada di
dalamnya, dan jangan lupa akan satu hal : semua
hanya masalah waktu. Saya berharap kalian menikmati perjalanan hidup He
Man, seperti saya. I’m enjoyed to read
this book, and I hope you are soo.




