Tampilkan postingan dengan label Romance. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Romance. Tampilkan semua postingan

[Review] The Stolen Years

on Sabtu, 09 Januari 2016



Judul : The Stolen Years
Penulis : Ba Yue Chang An
Penerjemah : Jeanni Hidayat
Penyunting : M. Noviana
Proofreader : Dini Novita Sari
Cover Designer : Chyntia Yanetha
Ilustrasi Isi : Frendy
Penerbit : Haru
Tanggal Terbit : Januari 2016
Edisi : Cetakan Pertama
ISBN : 978-602-7742-66-6
Tebal : 348 halaman
Rating :  4,5 dari 5 bintang

Benarkah waktu dapat mengikis perasaan cinta?

Hal terakhir yang diingat He Man adalah ia sedang berbulan madu dengan suaminya, Xie Yu. Namun, tiba – tiba gadis itu terbangun di rumah sakit dan sudah bercerai. He Man mengalami amnesia dan lupa akan lima tahun terakhirnya.

Ia tidak mengerti mengapa ia bisa bercerai dari Xie Yu padahal mereka saling mencintai. Ia tidak mengerti mengapa sahabatnya sekarang malah membencinya.

Ketika He Man berusaha mengumpulkan kembali kenangan dan ingatannya, ia mulai menemukan hal – hal yang tidak pernah ia duga sebelumnya.
***
“Nyamankah memiliki perasaan seperti itu? Padahal sepertinya itu tidak pernah terjadi, tapi kau harus mengakuinya dan menerima akibatnya.”—Hal. 96

He Man tidak percaya dengan apa yang dituturkan oleh kakaknya, He Qi bahwa dia dan suaminya, Xie Yu sudah bercerai setengah tahun yang lalu. Padahal yang He Man ingat, dia sedang berbulan madu dengan Xie Yu dan mengalami kecelakaan kecil akibat kecerobohannya. Yang membuat He Man lebih terpukul lagi adalah dia tidak bisa mengingat 5 tahun masa lalunya.

Kebingungan He Man kembali bertambah tatkala mengetahui bahwa dirinya masih sangat mencintai Xie Yu. Lalu, kenapa bercerai saat mereka masih saling mencintai?

Satu – satunya cara mengembalikan ingatan yang hilang adalah dengan kembali menjalani hidup di lingkungan yang sangat diingatnya. Dan itulah yang dilakukan He Man. Demi memulihkan ingatannya yang hilang, dia kembali ke rumah yang ‘sebenarnya’, dimana dia dan Xie Yu pernah tinggal bersama, memulai semuanya dari awal walaupun tidak lagi bertitle sebagai “Istri Xie Yu”

Begitu kembali ke rumah yang sekarang ditinggali sendiri oleh Xie Yu, berbagai fakta tentang dirinya, membuat He Man terguncang. Dia tidak percaya bahwa ‘He Man yang sekarang’ memiliki sifat yang bertolak belakang dengan ‘He Man yang dulu.’

“Berapa banyakkah hubungan yang kandas karena keegoisan, dan berapa banyakkah cinta yang memudar karena kerakusan?” —Hal. 143

***
Saya suka dengan ketiga karakter tokoh yang coba di bangun oleh penulis. Saya pikir kisah ini hanya berpusat dari sudut pandang tokoh He Man saja, ternyata dugaan saya salah. Penulis juga menghadirkan sudut pandang tokoh Xie Yu dan juga Lily. Yang akhirnya menghasilkan sudut pandang yang berbeda – beda. Ini merupakan point plus karena penulis memberikan opsi yang berbeda – beda dengan karakter tokohnya yang memang bertolak belakang.

Saya akui penulis memang lihai dalam mengolah kata. Membuat emosi saya serasa diaduk – aduk. Terjemahannya menurut saya sangat memuaskan. Bahasa yang digunakan sederhana dan mudah dipahami. Nggak terlalu berat, jadi saya bisa dengan mudah memahaminya #Maklum agak lola.

Beberapa orang terjebak disana, bukan karena tidak bisa, tapi kadang tidak mau berusaha keluar [ MASA LALU]. Itulah sedikit karakter yang saya tangkap dari sosok Xie Yu. Saya tahu bahwa sebenarnya Xie Yu masih sangat menyanyangi mantan istrinya walau bagaimanapun perlakuan He Man lima tahun yang lalu padanya.

Emosi yang coba dihadirkan penulis benar – benar terasa. Saya bahkan ikut terbawa kesal juga. Apalagi saat Xie Yu tidak bisa berkata apa – apa ketika Lily marah dan minta penjelasan atas semua yang terjadi padanya dan mantan istrinya. Wanita mana sih yang nggak marah melihat pacarnya tinggal serumah dengan mantan istrinya?

Tapi disisi lain saya juga bisa mengerti kenapa He Man melakukan hal tersebut, karena semata – mata hanya ingin mengembalikan ingatannya yang hilang. He Man sebenarnya juga tahu diri dan mencoba untuk tidak merusak hubungan mantan suaminya itu dengan pacar barunya.

Dan Xie Yu, awalnya saya pikir Xie Yu ini tipe laki – laki yang pengecut karena bimbang akan perasaannya sendiri. Tapi nyatanya saya salah. Pada pertengahan bab, saya serasa ditampar. Semua pikiran – pikiran buruk saya terhadap Xie Yu salah. Dia melakukan hal tersebut ( baca : bungkam ) karena memang menyembunyikan sesuatu. Salah satu hal yang menyebabkan keretakan rumah tangganya dengan He Man terjadi. Sebaliknya, saya merasa bersimpati pada Xie Yu. Mampu menahan rahasia seburuk itu sendiri, dan tidak mengungkapkannya. Memilih memendamnya dan membuat hatinya tersayat – sayat. Yeah, semacam suami-able banget *salah fokus.

Shock! Itulah kata buat ngungkapin ekspresi saya setelah baca novel ini. Penulis benar – benar membuat alur yang kayak roller coaster! Tiba – tiba dibuat senang, lalu kaget, dan sedih pula. Kayak permen nano – nano, banyak rasanya.

Gregetan banget sama endingnya. Gimana ya ngomongnya, takut spoiler. Pokoknya ARRGGHHH… nggak bisa diungkapin pake kata – kata.

Saya juga suka dengan cover novelnya. Sweet, berbanding terbalik dengan isi keseluruhan ceritanya. Dengan begitu, orang akan bertanya – tanya, cerita apakah yang akan disuguhkan dari cover novel yang begitu sweet ini. Salut buat Cover designer yang sudah membuat sampul novel The Stolen Years ini begitu perfect!

Untuk kalian yang percaya bahwa waktu bisa mengikis perasaan cinta atau sebaliknya, mengembalikan keutuhannya. Buat kalian yang ingin tahu arti sebuah kesetiaan, buku ini sangat pantas untuk kalian baca. Resapi setiap makna yang ada di dalamnya, dan jangan lupa akan satu hal : semua hanya masalah waktu. Saya berharap kalian menikmati perjalanan hidup He Man, seperti saya. I’m enjoyed to read this book, and I hope you are soo.

[Review] Operation: Break the Casanova’s Heart

on Selasa, 05 Januari 2016



Judul : Operation: Break the Casanova’s Heart
Nama Penulis : Aly Almario
Penerjemah : Airien Kusumawardani
Penyunting: K.P. Januwarsi
Proofreader: Titish A.K.
Design Cover: Saiful Rohman [COKROID]
Penerbit : Haru
Tanggal Terbit : Oktober 2015
Edisi : Cetakan Pertama
ISBN : 978-602-7742-64-2
Rating : 4,8 dari 5 bintang

Misi: Menghancurkan Hati Sang Casanova
10 Tugas yang Harus Diselesaikan:

1.      Buat dia menyadari kehadiranmu.
2.      Buat dirimu menonjol dari cewek-cewek lain.
3.      Dapatkan ajakan untuk berkencan.
4.      Jadikan kencan tersebut sangat berkesan.
5.      Buat dia menganggapmu serius.
6.      Pastikan dia hanya berkencan denganmu.
7.      Buat dia mengajakmu menemui orangtuanya.
8.      Buat dia mengajakmu menemui orangtuanya.
9.      Jadilah pacar terbaik yang pernah dia miliki.
10.  Langkah terakhir: HANCURKAN HATINYA.

Satu-satunya peraturan yang harus kau patuhi dalam misi adalah: jangan jatuh cinta kepadanya. Kalau kau melanggar peraturan ini, maka misi akan dianggap gagal. Sebagai gantinya, kau akan menerima hukuman yang berat.

Naomi Perez terpaksa menjalankan misi tersebut karena Stephen Cruz—sang Casanova—adalah cowok yang menghancurkan sahabatnya, Kryzel.

Apakah Naomi berhasil membuat Stephen jatuh cinta kepadanya?
Ataukah keadaan akan berbalik, justru Naomi yang jatuh cinta kepada Stephen?
***
“Saat kau mencintai seseorang, kau mencintainya begitu saja. Hanya itu yang penting, kan? Kau jatuh cinta begitu saja.”—hlm. 116

Naomi Mikael Perez—cewek kutu buku yang tomboi tidak pernah mengira akan berurusan dengan Stephen Cruz—cowok yang mendapatkan julusan Casanova di kampusnya. Stephen memang teman sekelas Naomi sejak SMA namun mereka tidak pernah benar-benar berinteraksi karena mereka bergaul di lingkungan sosial yang berbeda. Stephen adalah cowok populer dan selalu menjadi pusat perhatian di kelas. Dia selalu dikelilingi oleh sekelompok cewek yang memujanya. Bencana itu datang ketika Kryzel—sahabat baiknya mengaku telah menjadi pacar Stephen. Namun, dua minggu setelahnya, Kryzel menangis dan mengaku bahwa ia telah putus dengan Stephen. Hal itulah yang membuat Naomi marah. Ia memang tahu fakta bahwa Stephen tidak pernah menjalin hubungan serius dengan cewek. Namun ia tak menyangka sahabatnya sendiri akan terperangkap dalam pesona sang Casanova dan harus patah hati karenanya.

Lalu muncul organisasi bernama KPSC (Koalisi Pembenci Stephen Cruz) yang beranggotakan orang-orang yang pernah disakiti oleh cowok tersebut. Awalnya Naomi menolak untuk melaksanakan misi tersebut, namun pertama karena Stephen sudah menyakiti Kryzel dan kedua karena cowok itu telah mencuri ciuman pertamanya yang membuatnya sangat marah, akhirnya ia menyetujui misi tersebut.

Misi tersebut akhirnya dimulai. Naomi di make over habis-habisan oleh Yannie dan France—teman sesama anggota KPSC agar terlihat lebih cantik dan menonjol dari cewek-cewek lainnya. Naomi yang sebelumnya seperti itik buruk rupa akhirnya berubah menjadi angsa yang cantik. Dan setelahnya, semua dapat ditebak. Stephen akhirnya berusaha untuk mendekatinya.

“Aku akan menjadi pacarmu setelah kau belajar menganggap serius hubunganmu dengan cewek. Aku tidak mau main-main. Aku mau hubungan nyata.”—Naomi

“Kau lucu. Dari seluruh cowok di kampus, kenapa kau meminta hal seperti itu padaku? Padahal kau tahu aku tidak berkencan dengan siapapun lebih dari empat hari?—Stephen

“Itu karena kau belum pernah benar-benar jatuh cinta.”—Naomi

Misi demi misi ia lakukan. Namun, entah kenapa semakin ia mendekati misi terakhir, ia merasa ada yang salah. Naomi merasa tidak bisa melakukan hal terakhir dari misi tersebut. Dalam menjalankan misi inipun ia harus mengorbankan perasaannya. Naomi yang diam-diam menyukai Drew Fernandez—kapten basket di kampusnya, harus memendam perasaannya terlebih dahulu untuk memenangkan misi ini.

“Aku suka memanggilmu ‘Nami’. Aku sudah lama sekali memberimu nama julukan itu. Sehingga walaupun aku tidak selalu bersamamu, ketika kau mendengar atau melihatnya, kau tahu itu aku karena akulah satu-satunya yang berhak memanggilmu seperti itu.” –Stephen.
***
Ini pertama kalinya saya membaca karya dari penulis Filipina. Sensasi rasa penasaran, excited dan deg-degan bercampur jadi satu. Apalagi novel ini pertama kali dimuat dalam wattpad. Jadi, ketika Haru mengumumkan akan menerbitkan sebuah novel dari negara yang terkenal dengan bahasa Tagalog-nya itu, saya langsung excited pengen mencicipi karya penulis muda dari Filipina. Dan hasilnya, tidak mengecewakan. Saya sangat menikmati setiap alur, konflik serta karakter yang disuguhkan penulisnya.

Saya sangat suka karakter dua tokoh utama dalam novel ini. Stephen dan Naomi. Stephen ini tipe cowok bad boy. Cowok yang punya perilaku kurang ajar, tidak baik, dan sering tidak tahu diri. Tapi ganteng. Ya itulah Stephen. Sementara Naomi, menurut saya dia ini tipe cewek yang care dengan sahabat namun bisa galak dan agresif kalau dia mau. Contohnya nih, ketika dia harus mendekati Stephen, sementara cowok itu selalu bercumbu dengan cewek-cewek lain, Naomi akan dengan sangat berani menjahili si cewek dan akan berkata bahwa Stephen adalah miliknya dan ia tidak suka berbagi.

Cerita dalam buku ini bergulir dengan natural. Seolah semua adegan memang harus begitu adanya. Porsinya pas dan tidak dilebih-lebihkan. Juga bukan termasuk novel cinta remaja yang menye-menye. Aly Almario berhasil membuat saya menyukai tulisannya.

Konflik dari cerita ini tidak hanya ketika Naomi harus berusaha membuat Stephen jatuh cinta, namun kita juga akan tahu penyebab dari sifat Stephen. Bahwa kenapa dirinya selalu tidak mau menjalin hubungan yang serius dengan seorang cewek. Ini mengenai masa lalu tentang keluarganya yang tidak ingin ia ingat, yang berhasil membuatnya tidak ingin jatuh cinta.

Saya suka bagaimana penulis membuat interaksi antar tokohnya. Ketika bagaimana Naomi membuat Stephen cemburu begitu juga sebaliknya. Sweet. Kisah cinta mereka bikin saya iri. Dan ketika akhirnya Stephen jatuh cinta pada Naomi, sikap cowok itu benar-benar berubah. ‘Cinta’  hal absurd yang membuat kita melakukan hal-hal gila seperti beli pulsa hujan-hujanan, puasa demi tiket pesawat, sampai memaafkan perselingkungan. Dalam hal ini Stephen melakukan hal yang menurut saya manis, dengan membeli sepasang boneka kura-kura yang menurut Drew tidak akan berguna. Ia memberikan satu untuk Naomi dan satu untuk dirinya. Pen-Pen adalah nama untuk boneka Naomi, sementara Nam-Nam untuk boneka miliknya.

“Boneka ini bukannya tidak berguna. Kau bisa memeluknya saat kau tidur. Aku juga membeli satu untukku supaya kita punya sepasang kura-kura mainan yang sama.” –hlm. 101

Sebenarnya saya cukup kesal ketika membaca scane Stephen bercumbu dengan cewek lain padahal ia tengah berpacaran dengan Naomi. Pengen pukul kepala cowok itu dengan high heels deh rasanya. Namun, ketika akhirnya Naomi bisa membuat Stephen cemburu dengan kehadiran seorang Drew, saya langsung berseru, “Kena kau, Stephen!” Kisah cinta mereka benar-benar membuat saya iri.

Saya sempat terkejut sekaligus berdecak kagum ketika penulis menghadirkan twist di hampir halaman terakhir. Benar-benar mengejutkan. Dan saya menyukainya. Namun, agaknya terasa kurang pas kalau akhirnya ceritanya malah bergulir seperti itu. Saya merasa ada yang kurang. Oke, begini, saya mengharapkan penulis akan menuliskan sesuatu yang berbeda ketika mencapai halaman terakhir. Namun, setelah twist itu terlewati, saya merasa ceritanya malah menjadi kurang.

Namun, terlepas dari itu semua buku ini recommended banget buat kalian yang menyukai kisah romantis namun tidak instan. Karena di dalam buku ini banyak perjuangan yang untuk bisa benar-benar jatuh cinta. Dan saya yakin kalian akan jatuh cinta pada buku ini setelah menutup buku ini. Seperti saya.

[Review] The Chronicles of Audy : 21

on Minggu, 15 November 2015




Judul : The Chronicles of Audy : 21
Nama Penulis : Orizuka
Penyunting : Tia Widiana
Cover Desainer dan illustrator : Bambang ‘Bambi’ Gunawan
Proofreader : NyiBlo
Penerbit : Haru
Tanggal Terbit : September 2014
Edisi : Cetakan Kedua
ISBN : 978-602-7742-37-6
Rating : 5 dari 5 bintang

Hai. Namaku Audy.
Umurku masih 22 tahun.
Hidupku tadinya biasa-biasa saja sampai aku memutuskan untuk bekerja di rumah 4R.

Aku sempat berhenti, tapi mereka berhasil membujukku untuk kembali setelah memberiku titel baru : “bagian dari keluarga”

Di saat aku merasa semakin akrab dengan mereka, pada suatu siang, salah seorang dari mereka mengungkapkan perasaannya padaku.

Aku tidak tahu harus bagaimana!

Lalu, seolah itu belum cukup mengagetkan, terjadi sesuatu yang tidak pernah terpikirkan siapa pun.

Ini, adalah kronik dari kehidupanku yang semakin ribet.

Kronik dari seorang Audy.
***

“Keluarga tidak pernah menyerah satu sama lain.” –hlm. 40

Meski Regan dengan mengharukan mengatakan kalau Audy sudah dianggap sebagai “bagian dari keluarga” (plus dia bilang akan menjaga Audy layaknya dia menjaga adik-adiknya), nyatanya, keadaan masih belum banyak berubah. Audy masih membersihkan rumah, masih mencuci pakaian, masih mencuci piring, dan masih di-bully adik-adiknya. Namun, selama sebulan tinggal kembali di rumah 4R—setelah sebelumnya ia harus pergi karena ayahnya marah ia bekerja jadi babysitter merangkap pembantu (baca : review buku pertama) terjadi banyak hal yang mengubah hidupnya. Empat cowok—Regan, Romeo, Rex, Rafael—yang awalnya dianggapnya menyebalkan, lama-kelamaan merebut hatinya dan membuat Audy berbalik menyayangi mereka.

Namun, tetap saja masalah skripsi yang harusnya ia selesaikan dengan segera, terbengkalai karena ia masih harus mengurusi 4R. Seolah masalah skripsi itu belum cukup membuatnya kelabakan, suatu hari R3 mengatakan kalau dia menyukai Audy, lalu seakan pernyataan cintanya itu belum cukup menjungkir balikkan kehidupannya, orang yang selama ini tak pernah ia bayangkan akan hadir dalam hidupnya, muncul secara mendadak dan membuatnya semakin diserang kegalauan yang hebat.

“Perasaan kamu itu bikin aku bingung. Kamu selalu bikin aku membuat penjelasan. Kamu selalu bikin aku menunggu-nunggu. Kamu selalu bikin aku merasa bersalah. Dan tetap, kamu nggak meminta jawaban. Kamu bahkan nggak peduli pendapatku soal itu. Kamu yang saat ini, Rex Rashad, adalah orang yang egois.” –hlm. 229
***
Saya akui me-review buku bagus itu susah-nya minta ampun. Saya sampai membutuhkan waktu hampir 2 minggu untuk berpikir bagaimana me-review buku ini. Saya sempat merasa blank dan membutuhkan waktu untuk berpikir.

Sudah tidak bisa dipungkiri bahwa seri The Chronicles of Audy ini selalu ditunggu-tunggu oleh para pembaca setia kak Orizuka. Termasuk saya. Apalagi seri ketiga buku ini yang berjudul The Chronicles of Audy : 4/4 juga sudah terbit.

Karya-karya kak Orizuka memang tak pernah mengecewakan para pembacanya. Karyanya selalu asyik dibaca dalam sekali duduk. Saya ingat, saya hanya butuh waktu 5 jam untuk membaca buku ini. Ada banyak hal yang saya sukai dari seri ini. Yang kebanyakan menceritakan tentang kronik seorang Audy Nagisa dalam menghadapi 4R. Selain karakter mereka yang terasa hidup, saya menyukai kegiatan ‘keluarga’ yang disajikan oleh penulis. Banyak sekali sisi positif yang saya dapat dari buku ini. Meskipun unsur romance-nya sedikit namun di sepanjang cerita dalam novel ini penulis menyuguhkan pesan moral yang patut untuk direnungkan.  Seperti misalnya bahwa keluarga tidak menyerah satu sama lain. Bagaimana Audy mengubah kepribadian Rafael, lalu mengajari Romeo untuk mengubah sifatnya yang tidak mau mandi terlebih mencuci rambutnya membuat konflik dari buku ini semakin bervariasi.

Membaca kisah mereka membuat saya menemukan keluarga baru. Keluarga baru yang tidak akan saya temukan dimana pun. Keluarga yang saling mendukung satu sama lain, keluarga yang kompak dan konyol (menurut saya >_<)

Ada yang bertanya tokoh favorit saya dalam buku ini? #Nggak!!
Semuanya. Semua tokoh dalam novel ini menjadi favorit saya. Namun, ada satu yang special. And he is…Rex. Sosok terpelajar yang seluruh hidupnya didedikasikan untuk prestasi akademis, tapi tertutup, sensitive dan dingin—sikap yang kemungkinan besar muncul karena merasa dirinya genius menghipnotis saya untuk menyukainya. Sikapnya yang cuek namun diam-diam memperhatikan ini bikin saya gemas.

Di dalam buku ini konflik Audy Nagisa lebih dijelaskan secara kompleks lagi. Penggunaan kata-kata kak Orizuka yang ringan membuat saya tidak bosan untuk membalikkan halaman demi halaman sampai saya lupa waktu :D Saya selalu gemas dengan sikap Audy yang terkesan cuek padahal ia sendiri ingin meminta kejelasan. Ketika akhirnya amarah Audy meledak, saya bersiul senang, “Ini nih yang saya tunggu!”

Jadi menurut saya sendiri (karena beda orang, beda tipe juga) novel yang menarik itu yang mampu memberikan banyak sisi positif, pengetahuan baru, pesan moral yang harusnya direnungkan dan pelajaran hidup kepada para pembacanya. Tidak sekedar menunjukkan kelihaian menulis atau keindahan cerita yang disuguhkan saja. Seperti novel ini misalnya.
Dan membaca novel ini makin membuat saya lebih mengenal sosok 4R1A.