Tampilkan postingan dengan label Haru. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Haru. Tampilkan semua postingan

[Review] Cat and Dog

on Senin, 25 Januari 2016



Judul : Cat and Dog
Penulis : Park Hee-Jung
Penerjemah : Silvanissa
Penyunting : Novianita
Proofreader : Selsa Chintya
Layout : Valencia Brigitta
Penerbit : Haru
TanggalTerbit :Februari 2016
Edisi :CetakanPertama
Tebal : 195 halaman
Rating : 4,2  dari 5 bintang

Joo Yeong Woo
Meski hanya bertemu sekali saat masih balita, perlahan aku mulai jatuh cinta pada Mo Seul Woo, tunanganku yang tampan dan juga seorang artis. Akhirnya, hari pernikahanku tiba!

Mo Seul Woo
Aku cuma bertemu dengannya sekali sepuluh tahun yang lalu saat dia masih bayi, dan cewek itu buang air besar di depanku. Aku tidak akan pernah menikahinya.

***
“Aku percaya pada cinta seperti dongeng. Dimulailah cerita tentang putri yang sering menangis, Putri Pyeongkang, yang diancam ayahnya akan dinikahkan dengan si bodoh Ondal bila ia tidak berhenti menangis. Tanpa disadari cerita yang diceritakan berkali-kali kepada anak perempuan pun dimulai.” –Yeong Woo

Yeong Woo yang dalam dua bulan lagi akan genap berusia 19 tahun harus menikah dengan Seul Woo—artis tampan yang sejak kecil sudah dijodohkan dengannya. Berbeda dengan Yeong Woo yang tampak gembira akan hal itu, Seul Woo malah sebaliknya. Bagaimana tidak, kesan pertama Seul Woo saat bertemu dengan Yeong Woo saat kecil sangat buruk dan membuatnya tidak ingin menerima perjodohan itu. Ia bahkan menolak dan berkata tidak ingin pergi berulang kali kepada ibunya. Namun, entah karena alasan apa, Seul Woo akhirnya datang dan menjemput istrinya.

Seolah perjodohan itu belum juga mengacau kehidupannya, cinta dari masa lalu-nya, Ha Yoon selalu datang dan mengusik ketenangan batinnya. Gadis itu, selalu saja membuat Seul Woo merasa tak berdaya dan selalu mengalah.

“Kenapa aku selalu…melakukan kesalahan yang sama. Aku tahu kalau salah. Tetapi, kenapa selalu…Memilih pilihan yang salah.” –Seul Woo

“Terlalu mencintai nggak akan bikin mati.” –Seul Woo

Lalu, perjalanan hidup Yeong Woo baru saja dimulai. Bagaimana ia harus hidup dengan suami yang bahkan tidak cukup ia kenal, bagaimana ia harus menghadapi kedatangan orang ketiga yang bisa saja menghancurkan mimpi indahnya, dan bagaimana reaksi Yeong Woo kalau ia tahu suaminya bahkan masih mencintai gadis di masa lalunya?

“Mulai sekarang kau akan sama-sama menderita bersamaku. Berbeda dengan apa yang kau pikirkan, kan? Mau bagaimana lagi, Tuan Putri. Dongeng telah berakhir.” –Seul Woo

Ada dua tipe buku yang sulit di review. Pertama, karena bukunya bagus banget sampai si reviewer bingung mau meresensi seperti apa saking bagusnya. Kedua, karena isi dari cerita dalam bukunya kurang menarik, terlalu umum dan plotnya mudah ketebak. Dalam hal ini, novel ini masuk kategori pertama. Saya bahkan sempat bengong di depan laptop karena bingung harus menulis review-nya dari mana. Belum apa-apa saya sudah jatuh cinta dengan Cat and Dog ini.

Dua kata untuk webtoon ini: Kocak dan Keren.
Tiga permasalahan yang saya tangkap dari webtoon ini: Perjodohan, Cinta Masa Lalu dan Karir.
Saya belum terlalu mengenal karakter tokoh-tokoh dalam cerita ini, jadi agak bingung juga untuk mendeskripsikan satu per satu. Belum apa-apa udah bersambung di buku keduanya. Namun terlepas dari itu semua ilustrasi webtoon dari novel ini benar-benar bagus. Nggak bohong, keren banget. Inilah yang membuat saya menyukai komik yang 80% ceritanya berkisah melalui gambar. Karena itulah kita bisa menikmati perubahan mimik para tokohnya dengan jelas. Emosi yang sedang mereka alami pun secara tidak langsung akan tertular kepada pembacanya.

Adegan konyol para tokoh yang hadir dalam cerita ini pun terlihat sempurna dan bisa buat saya tertawa. Awal-awal saja saya sudah dibuat cekikikan sendiri. Saya sangat iri dengan seseorang yang dikaruniai kemampuan menggambar yang bagus, jadi sekali lihat ilustrasi di komik ini saya tahu penulis benar-benar pandai menggambar. Nggak hanya itu, dia juga pandai membuat cerita. Ah, komplit banget ya. Makin ngiri :D

Kalian harus baca buku ini. Trust me! Aku jamin nggak bakal nyesel deh. Oke, idenya memang pasaran ya, tentang perjodohan. Tapi lebih dari itu cerita dalam novel ini nggak sesederhana kelihatannya. Seorang gadis desa (Yupp itu kesan pertama saya waktu liat Yeong Woo yang masih pakai hanbok) yang dijodohkan dengan cowok yang keren dan hidup di dunia modern menggambarkan dua sisi yang berbeda dan saling berlawanan. Tapi saya yakin alur cerita dari komik ini pasti seru. Kepolosan Yeong Woo dan sikap dingin Seol Woo terasa cocok sekali di komik ini. Saya berharap segera bisa baca komik keduanya. Pengen liat bagaimana Yeong Woo akan beradaptasi dengan dunia suaminya yang penuh gossip (Maklum Seul Woo kan artis :D) Satu hal yang saya lihat dari karakter Seul Woo adalah dia tipe cowok yang kalau suka dengan seseorang, susah buat melupakan.

Masih banyak misteri terselubung dalam komik pertamanya ini. Bagaimana awal mereka bisa dijodohkan, kenapa Seul Woo akhirnya menerima perjodohan itu padahal dari awal ia sangat keukeh nggak mau datang, lalu bagaimana dengan perjalanan cinta mereka benar-benar membuat saya penasaran. Jadi nggak sabar pengen lanjut baca buku keduanya. Pasti nggak kalah kecenya. Karena saya juga nggak akan melewatkan seri keduanya #Peace

Selamat berkenalan dengan Yeong Woo dan Seul Woo^^

[Review] Café Waiting Love

on Selasa, 19 Januari 2016



Judul : Cafe Waiting Love
Penulis : Giddens Ko
Penerjemah : Julianti
Penyunting : Arumdyah Tyasayu
Proofreader : Selsa Chintya
Cover : Bambang 'Bambi' Gunawan
Penerbit : Haru
Tanggal Terbit : Januari 2015
Edisi : Cetakan Pertama
ISBN : 978-602-7742-70-3
Tebal : 404 halaman
Rating :  4,7 dari 5 bintang

Dalam hidup ini, ada berapa kali saat di mana jantung berdegup dengan kencang, dan kata-kata tidak sanggup terucap?
Aku belum pernah berpacaran, tapi aku tahu bahwa seseorang yang percaya pada cinta, seharusnya menghargai momen setiap kali jantungnya berdebar, kemudian dengan berani mengejar kali berikutnya, kali berikutnya, dan kali  berikutnya lagi.
Di dalam sebuah cafe kecil, setiap orang sedang menunggu seseorang.

***

"Di dalam sebuah buku setidaknya harus ada sebuah kisah yang terjalin. Jika ingin laku, cerita itu sebaiknya menyangkut percintaan. Memberitahu orang tentang apa itu cinta, bagaimana cara mencintai, bagaimana cara untuk dicintai, atau mengupas apa yang dikatakan sebagai kebahagiaan yang sebenarnya. Mengajarkan bahwa bersandar pada gunung, gunung bisa runtuh; bersandar pada orang, orang akan menjadi tua; untuk mendapatkan kebahagiaan, yang terbaik tetaplah mengandalkan diri sendiri." -hlm. 6

Dalam kisah ini kamu akan bertemu dengan Siying. Seorang gadis yang memiliki rasa keadilan tinggi dan sangat berani. 'Si' yang berarti rindu,  dan 'Ying' yang berarti kunang-kunang. Siying bekerja paruh waktu di sebuah cafe yang memiliki nama romantis, Waiting Love. Di Waiting Love ada Albus dan Nyonya Bos.

Albus adalah teman lesbian yang menjadi barista dan memiliki kemampuan khusus dalam meracik kopi. Sementara Nyonya Bos adalah wanita muda yang selalu menyeduh dua gelas kopi yang ia namai 'Racikan Spesial Nyonya Bos' setiap harinya.

Seperti Nyonya Bos yang sedang menunggu 'seseorangnya' begitu pula dengan Siying yang setia menunggu Kenya-nya dan sering dibuat patah hati karenanya.

Kenya adalah sebuah nama dari kopi yang sering dipesan oleh pemuda bernama Zeyu. Pemuda yang terlibat percakapan pendek dengan Siying yang membuat gadis itu jatuh cinta pada pandangan pertama.

Namun kisah ini belum dimulai. Kisah ini baru dimulai ketika seorang pemuda berusia 22 tahun yang memiliki senyuman tulus dan merupakan sosok yang sangat pemalu sampai nyaris tidak memiliki emosi muncul. Dia, A Tou.

Kemudian, dimulai dari sebuah salah paham dan segelas kopi moka hangat, Siying mulai mengenal A Tou.

"Zeyu bagaikan berlian yang menyilaukan mata, yang tampak seperti impian yang ingin dicapai oleh setiap orang. Tapi yang membuat berlian itu begitu berkilau adalah usaha dari banyak ahli yang mengukir dan membuatnya mengeluarkan sinarnya.
A Tou walaupun tidak mewah, tetapi bukanlah batu giok yang tenggelam di dasar sungai yang menunggu untuk digali, melainkan pohon yang menjulang tinggi. Orang yang menundukkan kepalanya untuk mencari harta karun, seumur hidupnya tidak akan pernah melihatnya, kecuali jika dia menengadahkan kepalanya." -hlm. 223

***

Book in the month untuk bulan Januari ini akan saya sematkan untuk Cafe Waiting Love. Buku yang wajib dan harus ada di daftar bacamu. Ada banyak alasan kenapa saya sangat menyukai buku ini dan merekomendasikannya untukmu. Namun, alasan utamanya adalah A Tou. Kamu tidak akan menjumpai karakter tokoh pria yang tampan, mempesona, cerdas ataupun kaya seperti yang  digambarkan pada novel kebanyakan. Sebaliknya kamu akan menemukan dunia yang berbeda bersama A Tou.

Kamu akan diajak jalan-jalan oleh A Tou ke tempat yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Melakukan hal-hal aneh, gila dan menyenangkan serta mengunjungi orang-orang eksentrik yang mengagumkan. Siapa yang bisa tahu kalau di lantai atas sebuah penatu ada seorang bibi yang bisa memasak hidangan sehebat hidangan restoran bintang lima?
Siapa yang tahu kalau A Tou-pemuda polos dan sabar itu berteman dengan seorang gengster yang sering membacok orang dan tinggal di apartemen mewah namun selalu merasa kesepian dan membutuhkan teman? Hanya A Tou-lah yang tahu hal-hal tersebut.

Dalam novel ini penulis bercerita menggunakan sudut pandang Siying. Namun, objek yang diceritakan adalah A Tou. Seolah penulis ingin menunjukkan dan memperkenalkan seorang A Tou melalui sudut pandang orang lain.

Saya sangat suka bagaimana penulis menggambarkan karakter A Tou. Pemuda yang sabar, polos, ceria dan sangat bersahabat ini. Ketika membaca novel ini saya merasa A Tou benar-benar hidup dan duduk di samping saya :D Sebentar saja membaca kisah ini, Giddens Ko telah membawa saya memasuki dunia yang penuh kegembiraan melalui sosok A Tou.

"Berlian butuh diukir dan diasah baru bisa bisa menjadi berkilauan, tetapi A Tou dapat menjadi hebat dengan sendirinya."-hlm. 243

Dalam buku ini saya bertemu macam-macam orang dengan sebutan yang aneh-aneh. Misalnya: Raja Sembarang Pesan-salah satu pelanggan di cafe Waiting Love yang selalu memesan kopi dengan nama sembarangan, Bibi Pisau Emas dan Paman Pisau Emas-pemilik penatu, Master Seni Keajaiban Tubuh-seorang pemuda yang bisa melakukan sulap dengan tubuhnya.

Kisah cinta yang dihadirkan dalam novel ini juga bukan jenis cinta yang menye-menye ala anak SMA pada umumnya. Siying yang selalu  dibuat patah hati oleh Zeyu yang sering gonta-ganti pacar pun terlihat terbiasa dengan kebiasaan itu. Malahan ia selalu memberi nilai pada pacar baru Zeyu. Perasaan sukanya pada Zeyu ia jadikan semangat untuk bisa berkuliah di tempat yang sama dengan Zeyu. Berharap suatu saat nanti Zeyu benar-benar 'melihatnya'. Dalam buku inipun kalian bakal menemukan alasan kenapa Zeyu sering bergonta-ganti pacar.

Giddens Ko berhasil menghadirkan adegan yang manis, sedih, menegangkan juga yang bisa membuat saya tertawa. Terutama ketika Siying mencoba menganalogikan dirinya dengan sebuah minuman.

Twist kecil yang dihadirkan oleh penulis dalam buku ini membuat saya menyukainya. Twist tersebut menjadi warna yang berbeda untuk kisah ini. Meskipun pada pertengahan cerita kehidupan Siying di cafe Waiting Love sedikit tenggelam, namun hal itu tak mengurangi kualitas dari novel ini. Saya benar-benar menyukai gaya bercerita Giddens Ko. Dan tidak penutup kemungkinan kalau saya akan menunggu setiap karya-karyanya.

Selain kisah hidup yang syarat akan makna, dalam buku ini kalian juga akan banyak dibuat tertawa juga. Scene yang sangat saya nikmati dari novel ini adalah ketika Siying dilanda dilema dengan kehadiran Baijia dalam kehidupan persahabatannya dengan A Tou. Saya menikmati hal dimana pikiran Siying seolah kacau dan berantakan. Bagaimana ia malah memasukkan kulit kuaci yang baru saya dimakan Albus ke dalam mesin penggiling kopi dan menyajikan hasilnya untuk Raja Sembarang Pesan.

Perjalanan hidup Siying, A Tou, Zeyu, Nyonya Bos dan orang-orang disekitarnya berawal dari cafe Waiting Love. Kalau Siying tidak membela A Tou di cafe itu, mungkin ia tidak akan pernah mengenal A Tou dan dunia-nya. Kalau ia tidak terlibat percakapan pendek dengan Zeyu yang membuatnya malu, mungkin ia tidak akan mengenal yang namanya cinta. Kalau ia tidak bekerja di cafe Waiting Love dan bertemu dengan Nyonya Bos, mungkin ia tidak akan mengerti arti dari menunggu 'seseorang'.

Setelah menutup buku ini satu hal yang saya pikirkan. 'Buku ini harus dibaca oleh banyak orang'. Karena kehidupan di cafe Waiting Love ini sangat sayang untuk dilewatkan. Dan saya yakin kalian akan menikmatinya. Seperti saya.

Yang terakhir, bersiaplah untuk jatuh cinta!

The Stolen Years Giveaway

on Sabtu, 09 Januari 2016



Waktunya giveaway !! Yeayy !
Kali ini saya akan membagikan satu novel The Stolen Years untuk satu orang yang beruntung. Simak rulesnya baik-baik ya :
1 Follow twitter @Rany_Dwi004, @penerbitharu
2 Follow blog ini via GFC
3 Ajak teman-temanmu untuk ikutan giveaway ini dengan mention akun twitter di atas. Jangan lupa gunakan hastag #TheStolenYearsGiveaway
4 Baca postingan review dari novel The Stolen Years yang sudah saya posting sebelumnya dan berikan komentarmu. (Komentar harus relevan dengan isi review dan buku yang bersangkutan, jadi bukan sekadar “bukunya keren” atau “ih, covernya lucu” dan semacamnya.)

5 Jawab pertanyaan ini di kolom komentar :

“Apakah menurutmu waktu dapat mengikis perasaan cinta?”

Cukup simple kan pertanyaannya. So, siapkan jawabanmu semenarik mungkin.

6 Tulis di kolom komentar postingan ini dengan format :
   Nama :
   Akun Twitter :
   Nama kamu untuk follow GFC :
   Link share :
   Jawaban :
7 Giveaway ini berlangsung mulai dari hari ini sampai tanggal 11 Januari 2016.
8 Pengumuman pemenang akan saya lakukan paling lambat 2 hari setelah giveaway berakhir via twitter dan blog ini.

9 Jika ada yang ingin ditanyakan tentang giveaway ini silakan menghubungi saya via twitter @Rany_Dwi004

[Review] The Stolen Years




Judul : The Stolen Years
Penulis : Ba Yue Chang An
Penerjemah : Jeanni Hidayat
Penyunting : M. Noviana
Proofreader : Dini Novita Sari
Cover Designer : Chyntia Yanetha
Ilustrasi Isi : Frendy
Penerbit : Haru
Tanggal Terbit : Januari 2016
Edisi : Cetakan Pertama
ISBN : 978-602-7742-66-6
Tebal : 348 halaman
Rating :  4,5 dari 5 bintang

Benarkah waktu dapat mengikis perasaan cinta?

Hal terakhir yang diingat He Man adalah ia sedang berbulan madu dengan suaminya, Xie Yu. Namun, tiba – tiba gadis itu terbangun di rumah sakit dan sudah bercerai. He Man mengalami amnesia dan lupa akan lima tahun terakhirnya.

Ia tidak mengerti mengapa ia bisa bercerai dari Xie Yu padahal mereka saling mencintai. Ia tidak mengerti mengapa sahabatnya sekarang malah membencinya.

Ketika He Man berusaha mengumpulkan kembali kenangan dan ingatannya, ia mulai menemukan hal – hal yang tidak pernah ia duga sebelumnya.
***
“Nyamankah memiliki perasaan seperti itu? Padahal sepertinya itu tidak pernah terjadi, tapi kau harus mengakuinya dan menerima akibatnya.”—Hal. 96

He Man tidak percaya dengan apa yang dituturkan oleh kakaknya, He Qi bahwa dia dan suaminya, Xie Yu sudah bercerai setengah tahun yang lalu. Padahal yang He Man ingat, dia sedang berbulan madu dengan Xie Yu dan mengalami kecelakaan kecil akibat kecerobohannya. Yang membuat He Man lebih terpukul lagi adalah dia tidak bisa mengingat 5 tahun masa lalunya.

Kebingungan He Man kembali bertambah tatkala mengetahui bahwa dirinya masih sangat mencintai Xie Yu. Lalu, kenapa bercerai saat mereka masih saling mencintai?

Satu – satunya cara mengembalikan ingatan yang hilang adalah dengan kembali menjalani hidup di lingkungan yang sangat diingatnya. Dan itulah yang dilakukan He Man. Demi memulihkan ingatannya yang hilang, dia kembali ke rumah yang ‘sebenarnya’, dimana dia dan Xie Yu pernah tinggal bersama, memulai semuanya dari awal walaupun tidak lagi bertitle sebagai “Istri Xie Yu”

Begitu kembali ke rumah yang sekarang ditinggali sendiri oleh Xie Yu, berbagai fakta tentang dirinya, membuat He Man terguncang. Dia tidak percaya bahwa ‘He Man yang sekarang’ memiliki sifat yang bertolak belakang dengan ‘He Man yang dulu.’

“Berapa banyakkah hubungan yang kandas karena keegoisan, dan berapa banyakkah cinta yang memudar karena kerakusan?” —Hal. 143

***
Saya suka dengan ketiga karakter tokoh yang coba di bangun oleh penulis. Saya pikir kisah ini hanya berpusat dari sudut pandang tokoh He Man saja, ternyata dugaan saya salah. Penulis juga menghadirkan sudut pandang tokoh Xie Yu dan juga Lily. Yang akhirnya menghasilkan sudut pandang yang berbeda – beda. Ini merupakan point plus karena penulis memberikan opsi yang berbeda – beda dengan karakter tokohnya yang memang bertolak belakang.

Saya akui penulis memang lihai dalam mengolah kata. Membuat emosi saya serasa diaduk – aduk. Terjemahannya menurut saya sangat memuaskan. Bahasa yang digunakan sederhana dan mudah dipahami. Nggak terlalu berat, jadi saya bisa dengan mudah memahaminya #Maklum agak lola.

Beberapa orang terjebak disana, bukan karena tidak bisa, tapi kadang tidak mau berusaha keluar [ MASA LALU]. Itulah sedikit karakter yang saya tangkap dari sosok Xie Yu. Saya tahu bahwa sebenarnya Xie Yu masih sangat menyanyangi mantan istrinya walau bagaimanapun perlakuan He Man lima tahun yang lalu padanya.

Emosi yang coba dihadirkan penulis benar – benar terasa. Saya bahkan ikut terbawa kesal juga. Apalagi saat Xie Yu tidak bisa berkata apa – apa ketika Lily marah dan minta penjelasan atas semua yang terjadi padanya dan mantan istrinya. Wanita mana sih yang nggak marah melihat pacarnya tinggal serumah dengan mantan istrinya?

Tapi disisi lain saya juga bisa mengerti kenapa He Man melakukan hal tersebut, karena semata – mata hanya ingin mengembalikan ingatannya yang hilang. He Man sebenarnya juga tahu diri dan mencoba untuk tidak merusak hubungan mantan suaminya itu dengan pacar barunya.

Dan Xie Yu, awalnya saya pikir Xie Yu ini tipe laki – laki yang pengecut karena bimbang akan perasaannya sendiri. Tapi nyatanya saya salah. Pada pertengahan bab, saya serasa ditampar. Semua pikiran – pikiran buruk saya terhadap Xie Yu salah. Dia melakukan hal tersebut ( baca : bungkam ) karena memang menyembunyikan sesuatu. Salah satu hal yang menyebabkan keretakan rumah tangganya dengan He Man terjadi. Sebaliknya, saya merasa bersimpati pada Xie Yu. Mampu menahan rahasia seburuk itu sendiri, dan tidak mengungkapkannya. Memilih memendamnya dan membuat hatinya tersayat – sayat. Yeah, semacam suami-able banget *salah fokus.

Shock! Itulah kata buat ngungkapin ekspresi saya setelah baca novel ini. Penulis benar – benar membuat alur yang kayak roller coaster! Tiba – tiba dibuat senang, lalu kaget, dan sedih pula. Kayak permen nano – nano, banyak rasanya.

Gregetan banget sama endingnya. Gimana ya ngomongnya, takut spoiler. Pokoknya ARRGGHHH… nggak bisa diungkapin pake kata – kata.

Saya juga suka dengan cover novelnya. Sweet, berbanding terbalik dengan isi keseluruhan ceritanya. Dengan begitu, orang akan bertanya – tanya, cerita apakah yang akan disuguhkan dari cover novel yang begitu sweet ini. Salut buat Cover designer yang sudah membuat sampul novel The Stolen Years ini begitu perfect!

Untuk kalian yang percaya bahwa waktu bisa mengikis perasaan cinta atau sebaliknya, mengembalikan keutuhannya. Buat kalian yang ingin tahu arti sebuah kesetiaan, buku ini sangat pantas untuk kalian baca. Resapi setiap makna yang ada di dalamnya, dan jangan lupa akan satu hal : semua hanya masalah waktu. Saya berharap kalian menikmati perjalanan hidup He Man, seperti saya. I’m enjoyed to read this book, and I hope you are soo.