Tampilkan postingan dengan label Korea. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Korea. Tampilkan semua postingan

[Review] Café Waiting Love

on Selasa, 19 Januari 2016



Judul : Cafe Waiting Love
Penulis : Giddens Ko
Penerjemah : Julianti
Penyunting : Arumdyah Tyasayu
Proofreader : Selsa Chintya
Cover : Bambang 'Bambi' Gunawan
Penerbit : Haru
Tanggal Terbit : Januari 2015
Edisi : Cetakan Pertama
ISBN : 978-602-7742-70-3
Tebal : 404 halaman
Rating :  4,7 dari 5 bintang

Dalam hidup ini, ada berapa kali saat di mana jantung berdegup dengan kencang, dan kata-kata tidak sanggup terucap?
Aku belum pernah berpacaran, tapi aku tahu bahwa seseorang yang percaya pada cinta, seharusnya menghargai momen setiap kali jantungnya berdebar, kemudian dengan berani mengejar kali berikutnya, kali berikutnya, dan kali  berikutnya lagi.
Di dalam sebuah cafe kecil, setiap orang sedang menunggu seseorang.

***

"Di dalam sebuah buku setidaknya harus ada sebuah kisah yang terjalin. Jika ingin laku, cerita itu sebaiknya menyangkut percintaan. Memberitahu orang tentang apa itu cinta, bagaimana cara mencintai, bagaimana cara untuk dicintai, atau mengupas apa yang dikatakan sebagai kebahagiaan yang sebenarnya. Mengajarkan bahwa bersandar pada gunung, gunung bisa runtuh; bersandar pada orang, orang akan menjadi tua; untuk mendapatkan kebahagiaan, yang terbaik tetaplah mengandalkan diri sendiri." -hlm. 6

Dalam kisah ini kamu akan bertemu dengan Siying. Seorang gadis yang memiliki rasa keadilan tinggi dan sangat berani. 'Si' yang berarti rindu,  dan 'Ying' yang berarti kunang-kunang. Siying bekerja paruh waktu di sebuah cafe yang memiliki nama romantis, Waiting Love. Di Waiting Love ada Albus dan Nyonya Bos.

Albus adalah teman lesbian yang menjadi barista dan memiliki kemampuan khusus dalam meracik kopi. Sementara Nyonya Bos adalah wanita muda yang selalu menyeduh dua gelas kopi yang ia namai 'Racikan Spesial Nyonya Bos' setiap harinya.

Seperti Nyonya Bos yang sedang menunggu 'seseorangnya' begitu pula dengan Siying yang setia menunggu Kenya-nya dan sering dibuat patah hati karenanya.

Kenya adalah sebuah nama dari kopi yang sering dipesan oleh pemuda bernama Zeyu. Pemuda yang terlibat percakapan pendek dengan Siying yang membuat gadis itu jatuh cinta pada pandangan pertama.

Namun kisah ini belum dimulai. Kisah ini baru dimulai ketika seorang pemuda berusia 22 tahun yang memiliki senyuman tulus dan merupakan sosok yang sangat pemalu sampai nyaris tidak memiliki emosi muncul. Dia, A Tou.

Kemudian, dimulai dari sebuah salah paham dan segelas kopi moka hangat, Siying mulai mengenal A Tou.

"Zeyu bagaikan berlian yang menyilaukan mata, yang tampak seperti impian yang ingin dicapai oleh setiap orang. Tapi yang membuat berlian itu begitu berkilau adalah usaha dari banyak ahli yang mengukir dan membuatnya mengeluarkan sinarnya.
A Tou walaupun tidak mewah, tetapi bukanlah batu giok yang tenggelam di dasar sungai yang menunggu untuk digali, melainkan pohon yang menjulang tinggi. Orang yang menundukkan kepalanya untuk mencari harta karun, seumur hidupnya tidak akan pernah melihatnya, kecuali jika dia menengadahkan kepalanya." -hlm. 223

***

Book in the month untuk bulan Januari ini akan saya sematkan untuk Cafe Waiting Love. Buku yang wajib dan harus ada di daftar bacamu. Ada banyak alasan kenapa saya sangat menyukai buku ini dan merekomendasikannya untukmu. Namun, alasan utamanya adalah A Tou. Kamu tidak akan menjumpai karakter tokoh pria yang tampan, mempesona, cerdas ataupun kaya seperti yang  digambarkan pada novel kebanyakan. Sebaliknya kamu akan menemukan dunia yang berbeda bersama A Tou.

Kamu akan diajak jalan-jalan oleh A Tou ke tempat yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Melakukan hal-hal aneh, gila dan menyenangkan serta mengunjungi orang-orang eksentrik yang mengagumkan. Siapa yang bisa tahu kalau di lantai atas sebuah penatu ada seorang bibi yang bisa memasak hidangan sehebat hidangan restoran bintang lima?
Siapa yang tahu kalau A Tou-pemuda polos dan sabar itu berteman dengan seorang gengster yang sering membacok orang dan tinggal di apartemen mewah namun selalu merasa kesepian dan membutuhkan teman? Hanya A Tou-lah yang tahu hal-hal tersebut.

Dalam novel ini penulis bercerita menggunakan sudut pandang Siying. Namun, objek yang diceritakan adalah A Tou. Seolah penulis ingin menunjukkan dan memperkenalkan seorang A Tou melalui sudut pandang orang lain.

Saya sangat suka bagaimana penulis menggambarkan karakter A Tou. Pemuda yang sabar, polos, ceria dan sangat bersahabat ini. Ketika membaca novel ini saya merasa A Tou benar-benar hidup dan duduk di samping saya :D Sebentar saja membaca kisah ini, Giddens Ko telah membawa saya memasuki dunia yang penuh kegembiraan melalui sosok A Tou.

"Berlian butuh diukir dan diasah baru bisa bisa menjadi berkilauan, tetapi A Tou dapat menjadi hebat dengan sendirinya."-hlm. 243

Dalam buku ini saya bertemu macam-macam orang dengan sebutan yang aneh-aneh. Misalnya: Raja Sembarang Pesan-salah satu pelanggan di cafe Waiting Love yang selalu memesan kopi dengan nama sembarangan, Bibi Pisau Emas dan Paman Pisau Emas-pemilik penatu, Master Seni Keajaiban Tubuh-seorang pemuda yang bisa melakukan sulap dengan tubuhnya.

Kisah cinta yang dihadirkan dalam novel ini juga bukan jenis cinta yang menye-menye ala anak SMA pada umumnya. Siying yang selalu  dibuat patah hati oleh Zeyu yang sering gonta-ganti pacar pun terlihat terbiasa dengan kebiasaan itu. Malahan ia selalu memberi nilai pada pacar baru Zeyu. Perasaan sukanya pada Zeyu ia jadikan semangat untuk bisa berkuliah di tempat yang sama dengan Zeyu. Berharap suatu saat nanti Zeyu benar-benar 'melihatnya'. Dalam buku inipun kalian bakal menemukan alasan kenapa Zeyu sering bergonta-ganti pacar.

Giddens Ko berhasil menghadirkan adegan yang manis, sedih, menegangkan juga yang bisa membuat saya tertawa. Terutama ketika Siying mencoba menganalogikan dirinya dengan sebuah minuman.

Twist kecil yang dihadirkan oleh penulis dalam buku ini membuat saya menyukainya. Twist tersebut menjadi warna yang berbeda untuk kisah ini. Meskipun pada pertengahan cerita kehidupan Siying di cafe Waiting Love sedikit tenggelam, namun hal itu tak mengurangi kualitas dari novel ini. Saya benar-benar menyukai gaya bercerita Giddens Ko. Dan tidak penutup kemungkinan kalau saya akan menunggu setiap karya-karyanya.

Selain kisah hidup yang syarat akan makna, dalam buku ini kalian juga akan banyak dibuat tertawa juga. Scene yang sangat saya nikmati dari novel ini adalah ketika Siying dilanda dilema dengan kehadiran Baijia dalam kehidupan persahabatannya dengan A Tou. Saya menikmati hal dimana pikiran Siying seolah kacau dan berantakan. Bagaimana ia malah memasukkan kulit kuaci yang baru saya dimakan Albus ke dalam mesin penggiling kopi dan menyajikan hasilnya untuk Raja Sembarang Pesan.

Perjalanan hidup Siying, A Tou, Zeyu, Nyonya Bos dan orang-orang disekitarnya berawal dari cafe Waiting Love. Kalau Siying tidak membela A Tou di cafe itu, mungkin ia tidak akan pernah mengenal A Tou dan dunia-nya. Kalau ia tidak terlibat percakapan pendek dengan Zeyu yang membuatnya malu, mungkin ia tidak akan mengenal yang namanya cinta. Kalau ia tidak bekerja di cafe Waiting Love dan bertemu dengan Nyonya Bos, mungkin ia tidak akan mengerti arti dari menunggu 'seseorang'.

Setelah menutup buku ini satu hal yang saya pikirkan. 'Buku ini harus dibaca oleh banyak orang'. Karena kehidupan di cafe Waiting Love ini sangat sayang untuk dilewatkan. Dan saya yakin kalian akan menikmatinya. Seperti saya.

Yang terakhir, bersiaplah untuk jatuh cinta!

[Blog Tour] Review Love With A Witch

on Senin, 23 Maret 2015

Judul : Love With a Witch
Nama Penulis : Hyun Go Wun
Penerjemah : Ratna Sitta Hapsari
Penyunting : Novianita
Proofreader : Yuli Yono
Penerbit : Haru
Tanggal Terbit : Maret 2015
Edisi : Cetakan Pertama
ISBN : 978-602-7742-50-5


Perkenalan Buku Pedoman Sihir

Kau tidak percaya penyihir ?
Sayang sekali.

Jangan terlalu serius dalam segala hal dan cobalah untuk bermimpi, sesekali.
Karena kadang-kadang, hal yang tidak pernah kau bayangkan sebelumnya, bisa saja terjadi.
Siapa tahu saja, suatu hari nanti seorang penyihir akan membuat keinginanmu jadi nyata hanya dengan mengayunkan tongkat sihirnya.
Seperti mimpi yang terjadi di suatu malam di tengah-tengah musim panas.

Oke. Sekarang cobalah untuk mengingat mantranya dan aku yang akan membuat ramuannya.
 
**

Penyihir ?
Atau,
Malaikat ?

Jika kau diberi kesempatan untuk bertemu salah satu dari mereka, kau akan memilih bertemu dengan siapa ?

“Perempuan itu benar-benar penyihir. Satu waktu, perempuan itu membuatnya merasa bahagia dan semangat. Namun, di waktu lain, perempuan itu membuatnya terdiam seribu bahasa.” –hlm. 113

Ju Hwi tidak menyangka akan bertemu dengan penyihir sekaligus malaikat dalam waktu bersamaan dan dalam tubuh wanita yang sama. Yaitu Soo An, wanita poker face yang menyelamatkan keponakannya dari ancaman maut itulah yang ia sebut penyihir sekaligus malaikat. Wanita itu akan berubah menjadi penyihir jika ia sedang marah. Soo An akan berbicara panjang lebar tanpa memberi kesempatan lawannya untuk bicara. Sementara itu, ia akan berubah menjadi malaikat yang lembut kalau sudah berurusan dengan Eun Yoo—keponakan Ju Hwi.

“Kalau kau tidak cukup percaya diri untuk bisa menjaganya, seharusnya dari awal kau tidak usah melakukannya.” –Soo An –hlm. 93

Meskipun Ju Hwi tidak suka dengan cara Soo An yang tidak memiliki etika dalam berbicara ditelepon (wanita itu selalu menutup telepon begitu saja setelah mengatakan apa yang ingin dikatakannya dan cenderung tidak mendengarkan kata-kata lawan bicaranya, dan hanya memedulikan dirinya sendiri) ia malah mempercayai wanita untuk mengasuh Eun Yoo. Ju Hwi yakin keputusannya untuk menitipkan Eun Yoo kepada Soo An sebagai orang asing yang baru pertama dijumpainya adalah tepat. Yang diinginkan Ju Hwi saat itu hanya melindungi Eun Yoo dari bahaya yang selama ini mengincar nyawa anak itu.

Pertemuan mereka diawali dengan ketidaksengajaan, ketika Eun Yoo berada di dalam pelukan perempuan itu, sampai pada akhirnya Jun Hwi menitipkan anak itu untuk berada di bawah pengawasannya.

“Aku bukan sedang terkena sihir. Tapi karena aku terlalu lama berada di pelukannya. Itu saja” – Jun Hwi –hlm. 127
**
Setelah sukses dengan novel-novel sebelumnya yang masih bergenre sama, kini Hyun Go Wun kembali meluncurkan satu novel baru yang masih bergerak dalam genre romance. Di dalam novel ini penulis menyajikan intrik dan konflik yang berbeda dari novel-novel sebelumnya. Yaitu tentang rumitnya sebuah keluarga yang memperebutkan harta warisan yang juga dibumbui dengan kisah cinta yang cukup rumit.

Di awal bab kita akan disambut dengan sudut pandang orang pertama + flashback dari kehidupan wanita bernama Soo An. Jadi, di awal bab itu kita sudah diperkenalkan sedikit tentang kepribadian Soo An oleh penulis secara tak langsung. Namun, masuk ke bab dua, penulis menggunakan sudut pandang orang ketiga.

Karena saya termasuk penggemar dari karya-karya Hyun Go Wun, saya sudah cukup hafal dengan gaya penulisannya. Ceritanya yang to the point (tidak bertele-tele) dan alurnya yang ringan adalah ciri khas dari Hyun Go Wun. Ceritanya pun tak jauh-jauh dengan pertemuan dua orang yang tidak  disengaja. Ciri khas lainnya adalah penulis selalu menyajikan kutipan di setiap awal bab-nya. Di dalam novel ini ceritanya memang to the point, namun sayangnya, saya merasa alurnya terkesan mendadak dan terlalu dipaksakan.

Kelebihan serta kelemahan lainnya adalah penggunakan tokoh-tokohnya yang seabrek.
+ Karena banyaknya tokoh yang dihadirkan penulis, konflik dalam novel ini jadi bervariasi dan tidak terpusat pada konflik tokoh utama saja.
- Pembaca akan dibingungkan dengan nama para tokohnya yang menurut saya hampir mirip satu sama lain. Karakter tokohnya pun kurang begitu dijelaskan. Jadi perbedaan karakter satu tokoh dengan tokoh lainnya kurang menonjol.

Hal yang saya sukai dari buku ini adalah ukuran font size dari bukunya yang enak dilihat. Maksudnya tidak terlalu kekecilan atau kebesaran, balance. Untuk covernya, warnanya soft banget dan yahh….saya akui, saya suka.

Melalui buku ini saya belajar banyak hal. Tentang kepedulian, cinta, pengorbanan juga penghianatan.


Yang terakhir….

Apa yang bisa kau berikan padaku ?
Aku berbicara padamu yang sangat mencintaiku. –hlm. 16

[Resensi] Cheeky Romance (repackaged)

on Senin, 01 Desember 2014


Cheeky Romance - Reporter dan Dokter Kandungan, bukan kombinasi yang buruk kan ?


Judul : Cheeky Romance
Penulis : Kim Eun Jeong
Penerbit : Haru
Penerjemah : Putu Prammania
Penyunting : NyiBlo
Proofreader : Dini Novita Sari
Design Cover : COKROID Ifulution@gmail.com
Ilustrasi Isi : @teguhra
Tanggal Terbit : November 2014
Edisi : Cetakan Kelima
ISBN : 978-602-7742-42-0

“Alasan para lelaki yang berselingkuh memang memiliki stereotip yang sama. Mengaku sudah melakukan kesalahan fatal, atau menyangkal bahwa itu bukan kesalahan mereka.” (hlm. 4)

Aku tidak hamill !!

Berawal dari Yoo Chae—seorang reporter, yang sedang bertengkar dengan pacarnya, Hee Jae—sama-sama reporter, yang ketahuan selingkuh. Karena merasa kesal, ia menulis makian untuk Hee Jae di kolom ‘keluhan’ di situs jejaring kantornya.
Karirnya hampir saja hilang karena ulahnya itu, ketika mendadak ia ditawari untuk menjadi presenter acara ‘Berburu Informasi LIVE’ oleh atasannya. Keberuntungan yang tidak terduga.

Namun, masalah rupanya tidak pernah jauh-jauh dari hidup Yoo Chae.

“Mungkin kau adalah wanita yang tahu bagaimana menjaga bayimu sendiri, tapi ternyata kau sengaja berbuat seperti ini karena ada di hadapan orang-orang?” (hlm. 42)

Bagaimana reaksimu, saat kau sedang syuting sebagai presenter kuliner, tiba-tiba muncul seorang pria yang marah-marah dan menuduhmu sebagai ibu hamil ?
Apalagi acara itu sedang ditayangkan secara LIVE dan ditonton oleh semua orang di penjuru negeri ?

Itulah masalah lain yang dialami oleh Yoo Chae. Saat ia sedang menyantap makanan untuk sebuah syuting acara kuliner, mendadak seorang pria datang marah-marah dan berteriak padanya. Pria itu menuduhnya hamil dan mengatakan semua makanan yang ia makan tadi dapat membahayakan bayi yang ada di dalam perutnya. Bahkan pria itu mengaku dirinya sebagai dokter kandungan.

Meskipun Yoo Chae mengatakan dirinya tidak hamil, seluruh penjuru negeri terlanjur mengetahui kesalahpahaman ini dan akibatnya, ia mendapat julukan “Ibu Hamil Nasional.”
Setelah kejadian itu, artikel mengenai dirinya muncul di berbagai media massa termasuk surat kabar. Belum lagi, Ia harus dipindah tugaskan ke kantor cabang dengan alasan karena telah merusak nama baik seorang reporter.

Berbeda dengan Yoo Chae yang terus mendapatkan kesialan setelah kejadian itu, Yoon Pyo—dokter kandungan yang tiba-tiba mendatangi Yoo Chae dengan marah itu—malah mendapatkan keuntungan yang tidak terduga. Ia bahkan mendapat pujian dari kepala rumah sakit di tempatnya bekerja atas aksi beraninya di TV dan mendapatkan tawaran dari stasiun TV untuk membuat acara dokumenter kedokteran.

“Kau tahu tidak, kapan perempuan tahu kalau dirinya sedang jatuh cinta ? Saat mereka mulai merajuk seperti anak kecil. Lalu, kau tahu kapan laki-laki sadar kalau dirinya sedang jatuh cinta? Saat laki-laki itu bertindak seperti orang bodoh karena ucapan perempuan itu.” –Yoon Pyo (hlm. 293)

‘Si Keras Kepala’ dan ‘Si Tidak Sabaran’
Yoo Chae dan Yoon Pyo kembali dipertemukan karena sama-sama harus terlibat dalam acara dokumenter kedokteran. Yoo Chae dipercaya statiun TV-nya untuk menjadi presenter, sementara Yoon Pyo dipercaya kepala rumah sakit untuk menjadi narasumber.

Banyak kisah-kisah menarik dalam pembuatan acara dokumenter tersebut. Mulai dari :
—Yoo Chae yang semakin dekat dengan Yoon Pyo
—Yoo Chae yang menasehati Yoon Pyo karena sifat tidak sabarnya.

“Sepertinya kau ini harus belajar untuk bersabar. Meskipun kau tidak sabar dan ingin cepat-cepat melakukan sesuatu, toh dunia ini tetap berputar dengan kecepatan yang sama di mana pun itu.” (hlm. 159)

—Yoo Chae yang harus ikut masuk ruang operasi hanya untuk mewawancarai seorang ibu yang mau melahirkan dan Yoo Chae yang harus rela rambutnya dijambak oleh ibu-ibu yang akan melahirkan.

***
Pertama, terimakasih kepada Penerbit Haru yang memberi kesempatan saya untuk merensensi buku ini.

Ini adalah buku kedua dari Kim Eun Jeong eonni[1] yang saya baca, setelah So, I Married the Anti-fan. Menurut saya, ide novel ini dengan novel sebelumnya yang saya baca (So, I Married the Anti-fan) hampir sama. Yaitu, tokoh wanita sama-sama ingin balas dendam dengan tokoh laki-laki karena sudah dipermalukan. Kesamaan berikutnya antara Cheeky Romance dan  So, I Married the Anti-fan adalah para tokohnya utamanya kembali dipertemukan dengan adanya rencana syuting bersama.

Gaya bahasa yang digunakan sederhana. Ide ceritanya memang hampir sama dengan So, I Married the Anti-fan (tokoh wanita ingin balas dendam dengan tokoh laki-laki karena sudah mempermalukannya), namun yang membuat novel ini menarik adalah penulis mampu mengemas ide cerita yang hampir sama ini dengan karakter-karakter para tokohnya. Kalau di So, I Married the Anti-fan penulis menyajikan tokoh dengan profesi artis dan wartawan, di novel ini penulis menyajikan tokohnya dengan profesi dokter kandungan dan reporter. Wahh…cukup bervariasi kan ?

Memang karakter kedua tokoh utama tidak dijelaskan secara gamblang di bagian awal, namun melalui teknik show not tell, di sepanjang cerita, saya dapat menemukan bagaimana karakter mereka.

Yoon Pyo—dokter kandungan yang memiliki sifat tidak sabaran dan terobsesi untuk selalu melindungi ibu hamil.

“Memangnya cinta itu ditulis dengan pensil, bisa dihapus seenaknya? Memangnya bayi itu ‘coretan’, bisa dihapus?” –Yoo Chae (hlm. 15)

Kalimat itulah yang menyebabkan dirinya mendadak menerjang dan mengacaukan syuting yang dilakukan Yoo Chae. Kalimat yang membuat dirinya salah paham kepada Yoo Chae.

Yoo Chae—seorang presenter yang mendapat julukan ‘Si Ibu Hamil Nasional’ karena ulah dokter gila. Wanita dengan golongan darah A yang dikenal sebagai si pemikir.

“Awalnya Yoo Chae ragu-ragu, tetapi akhirnya ia mulai menulis huruf demi huruf di bagian kolom ‘keluhan’ itu untuk menghilangkan rasa bosan.” (hlm. 7)

Penulis sangat lihai menggambarkan karakter Yoo Chae yang bergolongan darah A. Deskripsi kata ‘ragu-ragu’ diatas sudah menunjukkan bahwa Yoo Chae memang seorang pemikir.

Konflik yang disajikan penulis pun cukup beragam. Konflik tentang dunia reporter dan dokter kandungan yang ada di dalam novel ini sangat kental. Bahkan penulis menyelipkan cerita flashback di tengah-tengah cerita. Juga konflik cinta segitiga antara Yoo Chae, Yoon Pyo dan Hye Rong. Selain karakternya, saya juga menyukai latar dari novel ini, yaitu latar belakang mengenai dunia reporter dan dokter kandungan yang diangkat oleh Kim Eun Jeong eonni cukup menarik.

Untuk kekurangannya, saya masih banyak menemukan kalimat tidak efektif dalam novel ini. Entah itu karena terjemahannya atau apa, yang kadang membuat saya bingung dan merusak momen-momen indah saya saat membacanya. Ukuran font size untuk novel ini juga terlalu kecil, mungkin karena penerbit ingin membatasi jumlah halamannya yang barangkali kalau font-nya agak besar akan membuat novel ini semakin tebal juga. Untuk masalah typo, saya masih menemukannya walaupun sedikit, seperti di halaman 285 dan 372. Di kedua halaman itu typo-nya berupa kesalahan peletakan spasi dan kata penghubung.

Well, untuk ending-nya…kurang greget dan mudah ditebak. Padahal menurut saya, penulis bisa saja membuat ending yang lebih dan w.o.w
Tapi, walaupun begitu, emosi saya selalu dibawa naik turun oleh penulis dalam menyaksikan hubungan Yoon Pyo dan Yoo Chae yang terbilang rumit.

“Sekarang aku tidak bisa jika tidak ada kau. Aku adalah tujuan terakhir bagimu, dan kau adalah tujuan terakhir bagiku.” –Yoon Pyo (hlm. 428)


Ini dia penampakan cover depan



Untuk covernya, daripada versi cover lama, saya lebih menyukai yang ini. Ilustrasi microphone, botol yougurt dan stetoskop yang menghiasi cover versi baru lebih menonjolkan isi dari novel.

Adanya kutipan/quote yang menghiasi setiap bab-nya menambah tampilan halamannya menjadi semakin cantik.

 Adanya ilustrasi gambar di setiap bab-nya menambah nilai plus buku ini. Tapi sayang, untuk ilustrasi gambarnya menurut saya terkesan aneh.

Dan yang ini adalah penampakan dari cover depan, samping dan belakang.



Gimana, keren kan ?

Memang perlu banyak waktu untuk membaca buku dengan ketebalan lebih dari 400 halaman ini, namun novel-novel karya Kim Eun Jeong eonni selalu menarik perhatian dan menjadi teman yang tepat untuk membunuh waktu. Saya memberi 3,5 bintang untuk novel dengan ketebalan yang super tapi tidak membuat saya jenuh ini.

 


 
[1]Eonni = kakak perempuan (disebutkan oleh perempuan)