Tampilkan postingan dengan label Young Adult Reading Challenge 2015. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Young Adult Reading Challenge 2015. Tampilkan semua postingan

[Review] Stalking #Crazy Love

on Sabtu, 31 Oktober 2015


Judul : Stalking #Crazy Love
Nama Penulis : Elsa Puspita, Donna Widjajanto, Gianti Pradipta, Dy Lunaly
Penyunting : Starin Sani
Ilustrasi Isi : Hikmawan S.
Pemeriksa Aksara : Mia & Ifah Nurjany
Penata Aksara : Gabriel_Sih
Penerbit : Bentang Belia
Tanggal Terbit : Februari 2015
Edisi : Cetakan Pertama
ISBN : 978-602-1383-10-0

“Nah, seperti yang lo tulis di massage lo, hidup toh harus terus berjalan. Jadi, berjalanlah terus, Eric. Tetaplah jadi orang baik. Jangan takut tersenyum dan berbuat baik cuma karena ada cewek gila yang stalking lo. Suatu hari nanti mungkin bakal ada cewek baik yang nggak gila, yang jatuh cinta dengan tulus pada senyum lo itu. Dan, kalian akan bahagia.” –hlm 96

Pernah penasaran dan pengen deket dengan seseorang yang kamu suka ? Atau bahkan kisahmu sama seperti kisah Chia yang mengagumi Kamal—seniornya yang jago main sulap—dan berusaha untuk dekat dengan cara mengikuti Kamal sepulang sekolah hanya untuk mengetahui alamat rumah cowok itu ? Mencari nomor telepon rumahnya dan selalu menelpon sebelum tidur dan dikatai sebagai psikopat ?

Atau kisahmu sama seperti milik Rieva ? Karena perasaan cemburu dan sirik dengan kedekatan Eric—cowok yang ditaksirnya—dan Chiara, Rieva rela mengikuti mereka dan melakukan hal yang sama sekali tak dibayangkan akan membuat masa-masa SMA-nya suram.

Lain lagi dengan kisah milik Brianna. Karena tidak terima diputuskan oleh Ruri dengan alasan yang  tidak masuk akal, Brianna selalu mengikuti Ruri kemanapun cowok itu pergi. Hanya untuk memastikan bahwa hancurnya hubungan mereka bukan karena orang ketiga. Namun, bukannya bisa mendapatkan Ruri kembali, ia malah menerima kenyataan bahwa Ruri telah menjadi milik orang lain.

Pernah dibutakan oleh yang namanya “cinta” ? Sampai-sampai rela melakukan apapun demi orang yang kita sukai ? Meniru gaya bicara, berpakaian sampai tahu kegiatan orang yang menjadi saingan kita ? Kalau iya, ternyata kisah cintamu sama seperti milik Kinan. Gadis yang dibutakan oleh cinta dan rela melakukan hal yang menurut saya ekstrim. Seperti contoh, mengikuti Melissa—saingannya, kemanapun gadis itu pergi.

Apakah kisah cintamu sama seperti empat kisah yang saya ulas di atas ? Kalau iya, selamat ternyata kamu adalah salah satu orang yang suka stalking dan terjangkit penyakit #CrazyLove. Yeyyy ! Entah itu nge-stalk orang yang kamu suka, orang yang kamu benci atau bahkan mantan kamu. Nge-stalk melalui sosial media (sekedar melihat status terbaru si ‘dia’ di twitter, facebook, atau path) atau mengikuti kegiatan sehari-harinya sepulang sekolah secara diam-diam. Seperti saya yang suka nge-stalk juga. Haha, jadi ketahuan deh.

Dalam kumcer Stalking #CrazyLove ini ke-empat penulis menceritakan kisah stalking kehidupan percintaan remaja dengan gaya menulis mereka masing-masing. Dengan keunikan mereka masing-masing. Namun, masih dalam konteks benang merah. Duh…pasti ribet banget ya menyatukan empat kepala. Saya saja sampai berkali-kali membalikkan halaman demi mencocokkan nama-nama mereka. Dan entah kenapa sebagian besar yang penulis ceritakan (meskipun dalam kisah fiksi) merupakan hal-hal yang terjadi di dunia remaja. Kisah cinta monyet, cinta bertepuk sebelah tangan, sampai kisah cinta yang bisa membutakan siapa saja. Iya…cinta itu buta. Cinta itu bisa membuat orang yang mengalaminya melakukan tindakan yang tidak rasional.

Ending dari setiap kumcer ini juga nge-twist. Ending yang paling membuat saya bingung adalah Love is Blind karya kak Dy Lunaly. Iya…ending-nya agak gimana gitu. Namun yang unik kak Dy Lunaly mengambil tema stalking yang lebih ekstrim dari yang lain. Ini yang membuat saya menyukai cerita itu dibandingkan yang lain. Namun, bukan berarti yang lain jelek lho ya! Penasaran sama cerita-nya? Baca aja sendiri :D Yang pasti saya merasa menemukan kebiasaan diri saya yang kadang suka nge-stalk seseorang dalam buku ini. Dunia remaja banget lah!

[Review] P.S. I Still Love You

on Minggu, 25 Oktober 2015


Judul : P.S. I Still Love You 
Nama Penulis : Jenny Han
Penerjemah : Airien Kusumawardani
Penyunting : Selsa Chintya
Proofreader : Titish A.K.
Ilustrasi Isi : @teguhra
Penerbit : Spring
TanggalTerbit : September 2015
Edisi : Cetakan Pertama
Jumlah hal : 356 halaman
ISBN : 978-602-71505-3-9
Rating : 4 dari 5 bintang

Lara Jean tidak mengira akan benar-benar jatuh cinta pada Peter.

Dia dan Peter tadinya hanya berpura-pura.
Tapi tiba-tiba saja mereka tidak lagi pura-pura.
Sekarang, Lara Jean tambah bingung dengan perasaannya dan juga dengan situasi yang dia hadapi.

Saat seorang pemuda dari masa lalunya tiba-tiba kembali ke dalam kehidupannya, percikan yang pernah diarasakan pun kembali.
Bisakah seorang gadis jatuh cinta pada dua pemuda sekaligus?

Buku ini adalah sekuel dari To All the Boys I've Loved Before, tempat kita bias merasakan cinta pertama lewat Lara Jean.

Cinta tidak pernah mudah, tapi mungkin itulah yang membuatnya luar biasa.

***
"Kalau kau kehilangan seseorang dan rasanya masih menyakitkan, saat itulah kau tahu cinta kalian nyata."-hlm. 321

Hubungan Lara Jean dan Peter yang memburuk pasca kegiatan karya wisata itu membuat Lara Jean sadar bahwa ia tidak ingin kehilangan Peter. Berbekal saran Kitty dan Margot, setelah pulang merayakan tahun baru Lara Jean menemui Peter untuk menyerahkan surat berisi semua perasaannya dan berharap ia bias berbaikan lagi dengan Peter. Kalau saja surat-surat itu tidak terkirim kepada 5 cowok yang pernah ia sukai ( PeterKavinsky— cowok paling tampan diantara cowok tampan dan terkeren di sekolahnya, Josh Sanderson—pacar kakaknya, John Ambrose McClaren, Kenny dan Lucas Krapf—yang seorang gay) mungkin selamanya Lara Jean akan menyembunyikan perasaannya. Namun Lara Jean tidak pernah menyesali hal itu, karena sebaliknya, ia bias dekat dengan Peter berkat itu semua.

Ia merasa dunianya kembali normal setelah ia bias berbaikan lagi dengan Peter sebelum video tentang dirinya dan Peter saat karya wisata yg seharusnya menjadi memori miliknya sendiri tersebar luas di dunia maya melalui akun instagram. Meskipun Kitty, Margot, Cris mengatakan kalau semuanya akanbaik-baik saja, bahkan Peter berjanji akan mengurus semuanya, Lara Jean tahu  kehidupannya  takkan pernah sama lagi. Terutama tentang teman-teman bahkan guru-gurunya yg akan memandangnya dgn pandangan yg berbeda.


Seolah video itu belum cukup untuk menggemparkan dunianya, salah satu cowok yg pernah ia kirimi surat, John Ambrose McClaren muncul dan menjungkirbalikkan perasaan bahkan kisah cintanya. Seseorang dari masa lalu Peter pun ikut menyumbang peran tentang kerumitan hubungannya dan Peter.
"Banyak orang yang keluar masuk di hidupmu. Untuk satu masa, mereka adalah duniamu, mereka segalanya. Lalu suatu hari mereka bukan lagi apa-apa bagimu. Kau tidak bisa tahu seberapa lama mereka akan berada di dekatmu." -hlm. 347

***

Semenjak saya berhasil menyelesaikan buku pertamanya To All the Boys I've Loved Before, saya sadar bahwa saya menyukai kisah cinta Lara Jean ini. Jadi saya berharap sekual dari buku To All the Boys I've Loved Before ini segera diterbitkan. Akhirnya harapan itu terkabul juga ketika Penerbit Spring mengabarkan kalau P.S. I Still Love You akan segera terbit. Dan diadakanlah blogtour ini.

Dalam buku ini tokoh Lara Jean-Peter mendapat porsi yang lebih banyak dengan segala konflik yang menaunginya. Kalau di buku pertama saya kurang menyukai tokoh Peter, dibuku kedua ini penulis berhasil merubah persepsi saya tentang cowok ini. Di buku kedua ini karakter Peter diulas lebih banyak dan dalam lagi. Peter yang bermetamorfosis menjadi cowok yang lebih dewasa, bertanggung jawab, romantis meskipun sedikit kekanak-kanakan membuat saya jadi menyukainya. Begitu pula Lara Jean. Sikapnya yang kuat dan tidak mau kalah membuat gadis ini terlihat dewasa daripada umurnya. Terlihat ketika kisah cintanya diambang kerumitan, Lara Jean mencoba menghadapi kegalauannya dengan bekerja secara sukarela di Belleview-sebuah panti jompo. Kecintaannya dalam memasak, terutama cake, membuat saya ingin bisa seperti dirinya.


Cerita yang bergulir melalui sudut pandang Lara Jean ini membuat saya seolah-olah adalah si tokoh utama. Emosi yang coba dihadirkan penulis berhasil saya rasakan. Perasaan cinta, disayangi. Kebencian sampai rasa cemburu begitu terasa.Kisah cinta itu kalau nggak dibumbui perasaan cemburu memang kurang menarik. Dan perasaan cemburu itu tersampaikan dengan baik berkat kedatangan seseorang di masalalu Lara Jean dan Peter.

Hanya terlalu disayangkan, saya kehilangan sosok Josh Sanderson yang dibuku pertama dulu ditonjolkan dan berhasil membuat saya menyukainya. Di buku kedua ini kehadiran Josh seperti angin lalu dan mudah terlupakan. Kalau dibuku pertama saya pernah berkata kalau karakter Lara Jean seolah tenggelam, di buku kedua ini penulis berhasil menguatkan tokoh utama wanita ini dengan karakternya yang kuat, pantang menyerah,egois dan cukup emosional. Terlepas dari itu semua, saya sangat menyukai karakter tokoh yang diciptakan Jenny Han disini.
 
Tidak hanya drama cinta saja yang dihadirkan dalam novel ini, tapi juga drama keluarga. Bagaimana interaksi Lara Jean dengan keluarganya menjadi bumbu lain yang melengkapi kisah ini. Tentang mereka yang merayakan tahun baru serta valentine bersama. Hal positif yang saya dapat dari buku ini adalah bagaimana Lara Jean sangat menyayangi setiap anggota keluarganya.

Kisah cinta remaja yang sweet ala Lara Jean-Peter ini mungkin akan terus saya ingat. Well, saya sangat merekomendasikan novel ini buat semua saja. Karena saya yakin kalian bakal menyukainya.






[Review] To All The Boy’s I’ve Loved Before

on Sabtu, 03 Oktober 2015
Judul : To All The Boy’s I’ve Loved Before
Nama Penulis : Jenny Han
Penerjemah : Airien Kusumawardani
Penyunting : Selsa Chintya
Proofreader : Yuli Yono
Ilustrasi Isi : @teguhra
Penerbit : Spring
Tanggal Terbit : April 2015
Edisi : Cetakan Pertama
Jumlah hal.: 380 halaman
ISBN : 978-602-71505-1-5
Rating : 3,5 dari 5 bintang

LARA JEAN
MENYIMPAN SURAT-SURAT CINTANYA DI SEBUAH KOTAK TOPI PEMBERIAN IBUNYA.

Surat-surat itu bukan surat cinta yang ditujukan untuknya, tapi surat yang ia tulis. Ada satu surat untuk setiap cowok yang pernah ia cintai—totalnya ada lima pucuk surat. Setiap kali menulis, ia mencurahkan semua perasaannya. Ia menulis seolah-olah mereka tidak akan pernah membacanya karena surat itu memang hanya untuk dirinya sendiri.

Sampai suatu hari, semua surat-surat rahasianya itu tanpa sengaja terkirimkan—entah oleh siapa.

Saat itu juga, kehidupan cinta Lara Jean yang awalnya biasa-biasa saja menjadi tak terkendali. Kekacauan itu melibatkan semua cowok yang pernah ia tulis di surat cintanya—termasuk cinta pertamanya, pacar kakaknya, dan cowok terkeren di sekolah.

***
“Apa kau tahu bagaimana rasanya sangat menyukai seseorang sampai perasaan itu tak tertahankan dan tahu kalau mereka tidak akan pernah merasakan hal yang sama?” –hlm. 81

Setelah ibunya meninggal, Margot, Lara Jean dan Kitty harus bersikap dewasa dan mengurus segala hal mengenai rumahnya sendiri. Termasuk bersikap tidak nakal karena tidak ingin merepotkan ayahnya. Terlebih Margot, yang paling tua, selalu memberikan contoh yang baik pada adik-adiknya. Untungnya ada Josh—tetangga sekaligus pacar Margot—yang selalu datang kerumah mereka dan menjadikan suasana lebih berwarna. Josh—adalah cowok yang sangat disayangi oleh semua keluarga Lara Jean. Termasuk ayah dan Kitty. Tak jarang, Josh selalu mampir ke rumah mereka untuk menikmati makan malam bersama keluarganya.

Ketika Margot memutuskan untuk melanjutkan study-nya ke Skotlandia, Lara Jean merasakan beban berat yang selama ini ditanggung Margot, sebentar lagi akan ia tanggung. Memasak, mencuci pakaian, menjaga Kitty dan memberikan contoh yang baik kepada adiknya tersebut.

Lalu seakan dunianya belum cukup berantakan setelah kepergian Margot, muncul lagi sebuah masalah yang mampu membuatnya kelabakan. Surat-surat cintanya, yang ia tulis untuk lima orang yang pernah ia cintai, yang ia simpan dalam sebuah kotak topi berwarna hijau kebiruan tiba-tiba saja menghilang.

Bersamaan dengan itu, satu persatu orang dari masa lalu yang pernah dicintainya muncul sambil membawa sebuah surat yang ternyata adalah surat cinta yang pernah ia buat sambil menanyakan apakah pengirim surat itu Lara Jean atau bukan. Jadi selama ini surat-surat tersebut telah dikirimkan oleh seseorang yang bahkan Lara Jean tidak tahu.

5 pucuk surat itu ternyata sudah terkirim kepada Peter Kavinsky—cowok paling tampan diantara cowok-cowok tampan dan terkeren di sekolahnya, Josh Sanderson—pacar kakaknya, John Ambrose McClaren, Kenny dan Lucas Krapf—yang seorang gay. Setelah kejadian itu, hidup Lara Jean seperti sebuah film horror.

“Dibutuhkan tanggung jawab yang besar untuk mencengkeram hati seseorang dalam genggamanmu.” –hal. 45
***

Memang ya kalau kita mencintai seseorang yang tidak bisa digapai alias bertepuk sebelah tangan, yang bisa kita lakukan kalau nggak diam saja, ya menulis surat atau curhatan kita di blog, ataupun di buku diary. Jadi, selayaknya gadis yang bagaikan pungguk merindukan bulan, Lara Jean menuangkan semua perasaan yang pernah ia rasakan ke dalam sebuah surat. Yang bodohnya juga, kenapa malah diberi nama lengkap dan alamat penerima. It’s wrong! Ini sebuah kesalahan besar kan? Lara Jean tidak bermaksud untuk mengirimkan surat-surat itu, tapi kok ya kenapa ditulisi alamat penerima-nya juga? Ini kan nggak logis >_<

Semua kegiatan yang ada dibuku ini terlihat biasa seperti novel Barat kebanyakan yang selalu menyajikan ‘kegiatan keluarga’ termasuk interaksi antara anak dan orang tua. Seperti percakapan mereka saat makan malam atau saat sedang bersama menghabiskan waktu natal atau libur sekolah. Lalu kegiatan Lara Jean yang suka memasak dan memanggang kue, kegiatan di sekolahnya, juga di ceritakan dan semua tampak umum.

Konflik yang disajikan juga tidak terlalu terasa. Sewaktu surat-surat cinta Lara Jean terkirim dan satu demi satu cowok itu mempertanyakan keberanarannya, itupun eksekusinya kurang nendang. But, saya suka premis dari novel ini. Dan entah kenapa ada sesuatu yang membuat novel ini berbeda dan membuat saya menyukainya.

Ada yang menanyakan Peter Kavinsky?
Haha, ketika semua blogger yang me-review buku ini menggilai cowok bernama Peter ini, saya malah sebaliknya. Saya tidak menemukan satu hal dari si Peter ini yang membuat saya harus menyukainya. Karakter tokoh cowok yang satu ini kurang bisa saya gambarkan. Tidak ada deskripsi tentang diri cowok ini. Oke, Peter hanya digambarkan dengan kata ‘tampan’ dan itu tidak cukup untuk membuat saya menyukainya. Josh bilang Peter Kavinsky itu brengsek (Oke, maafkan pemilihan kata saya. Saya hanya mengikuti Josh saja #haha) dan saya merasa juga begitu.

Hal lain yang sangat saya sukai adalah detail setting-nya yang diperhatikan dan dieksplor dengan sangat baik. Seperti misalnya deskripsi tentang sesuatu yang sedang dikerjakan Lara Jean, atau saat Lara Jean pergi ke suatu tempat. Karena menurut saya hal-hal seperti detail setting biasanya kurang terlalu diperhatikan, jadi sewaktu membaca novel ini, ada kesenangan tersendiri.

Namun, mungkin karena terlalu memperhatikan detail setting-nya, karakteristik tokoh-tokohnya kurang begitu diperhatikan. Terutama Lara Jean. Tokoh utama ini, entah kenapa menurut saya kurang hidup. Saya merasa tokohnya malah tenggelam jika dibandingkan tokoh pendukung lainnya. Tokoh Margot, Josh, Peter, Kitty bahkan ayahnya terasa begitu bersinar. Tidak dengan Lara Jean. Oke, novel ini menggunakan sudut pandang orang pertama, semua emosi yang Lara Jean rasakan, saya juga bisa merasakannya, secara tidak langsung. Tapi, karakternya benar-benar kurang hidup.

Saya sangat suka covernya. Untung saja Penerbit Spring memilih cover asli baratnya, karena cover seperti ini memang keren. Novel TATBILB ini masuk dalam New York Times Bestseller dan masuk nominasi Goodreads Choice Award Young Adult Fiction. Dan memiliki rating yang cukup tinggi di Goodreads dan Amazon juga lho. Novel ini ternyata punya sekuel-nya! Judulnya P.S I Still Love You yang sudah terbit tanggal 26 Mei kemarin. Wahh….jadi nggak sabar, semoga sekuel-nya ini juga segera diterjemahin sama Penerbit Spring ya.

Saya menyimpulkan bahwa buku ini akan membawa para pembacanya untuk mengenang masa-masa remaja tentang kisah cinta mereka masing-masing. Jadi, untuk kalian yang ingin kembali bernostalgia dengan masa remaja, saya merekomandasikan novel TATBILB ini.