[Review] Cine Us

on Jumat, 20 Maret 2015


 
Judul : Cine Us
Nama Penulis : Evi Sri Rezeki
Penyunting : Dellafirayama
Penyelaras Aksara : Novia Fajriani, @kaguralian
Penata Aksara : Nurul M Janna
Perancang Sampul : Fahmi Ilmansyah
Penggambar Ilustrasi Isi : Anisa Meilasyari
Penerbit : Noura Books
Tanggal Terbit : Agustus 2013
Edisi : Cetakan Pertama
ISBN : 978-602-7816-56-5

“Di dunia ini, ada dua hal yang pantas diperjuangkan. Impian dan cinta. Namun melelahkan sekali kalau kita hanya mengejar pengakuan dari orang lain. Kebanggaan itu berasal dari diri sendiri.” (hlm. 281)

Berbeda dengan kemarin saat saya baca Love Puzzle milik kak Eva, sekarang saya baca Cine Us milik kembarannya, yaitu kak Evi. Wahh..kakak-kakak kembar ini hebat ya. Bisa buat novel sendiri-sendiri.

Well, Cine Us bercerita tentang gadis bernama Lena, yang terobesesi atau memiliki impian menjadi seorang sineas. Bersama kedua sahabatnya, Dania dan Dion, ia membentuk sebuah Klub Film yang dinamai Movie Club. Namun, klub yang ia dirikan ini sepi peminat di sekolahnya. Berbagai usaha mulai dari membagikan pamflet dalam acara pemutaran film, pembagian DVD gratis telah ia lakukan untuk menarik minat teman-temannya. Namun tak ada satupun yang ikut. Perjuangannya dalam mengembangkan Klub Film itu membuahkan hasil ketika ia bisa merekrut 7 siswa kelas X untuk menjadi anggota Klub.

Namun bukan sukses namanya kalau tidak ada cobaan. Berbagai cobaan sudah sangat dirasakan oleh Klub Film ini. Mulai dari film mereka yang dikritik jelek, Festival Film Remaja yang dijadikan taruhan, sampai kejadian mengejutkan yang membuat saya sendiri terngaga.
Konfliknya semakin terasa saat dalam Festival Film Remaja itu Lena ditantang oleh mantan pacarnya, Adit, untuk memenangkan dua kompetisi sekaligus.

“Sehebat apapun seorang movie maker, dia pasti pernah dikritik. Coba kalian pikir, film mana yang lolos kritikan ? Sutradara sebesar apapun pernah mendapat kritikan. Karena itulah, mereka bisa menjadi besar.” (hlm. 110)

Di tengah gempuran kegelisahan yang melanda dirinya ia bertemu dengan cowok misterius yang menyukai animasi. Cowok itu ia namai sebagai anak hantu karena sering muncul tanpa diundang dan pergi begitu saja. Ia sampai harus kena hukuman karena mencoba mencari data dari cowok itu. Namun keberuntungan malah datang padanya. Ia bisa bertemu dengan cowok misterius itu di tengah kesialannya. Bahkan Lena berusaha memaksa cowok misterius itu untuk masuk dalam Klub Film. Cowok misterius bernama Rizki yang bersikap ringan, kocak dan terkadang norak, tanpa memperlihatkan beban yang ia punya.

Banyak sekali informasi atau istilah-istilah dalam pembuatan film pendek yang saya dapat dari buku ini, tentang storyboard, timeline, budgeting, skenario, dll yang berhubungan dengan pembuatan film pendek. Juga saya bisa merasakan emosi yang memuncak saat berbagai cobaan terus saja menyerang Lena dan kawan-kawannya dalam meraih mimpi.

Selain menceritakan kegiatan seputar Klub Film, novel ini juga menceritakan aktivitas siswa pada umumnya. Tentang susahnya mengerjakan ujian, dan juga peliknya kisah cinta remaja.

“Bukankah orang sering kali bersikap tolol ketika berhadapan dengan perasaan ?” (hlm. 119)

Sempat menyayangkan karena kisah romansanya kurang kuat. But, no problem, itu nggak jadi masalah sekarang. Karena apa ? Karena buku ini memang banyak memusatkan isi ceritanya tentang mimpi. Mimpi Lena dan kawan-kawannya.

Melalui novel ini saya belajar tentang banyak hal. Kepercayaan, kekuatan, perjuangan, kebersamaan, kehilangan dan juga tentang mimpi-mimpi yang harus kita perjuangkan dan wujudkan selama kita punya niat. Melalui tokoh Lena, saya kembali bisa merasakan semangat untuk meraih cita-cita dan mimpi saya. Bahwa tidak ada usaha dan pengorbanan yang sia-sia. Senang rasanya berpetualang mengejar mimpi bersama gadis bernama Lena yang tidak pantang menyerah ini.

Ada satu lagi kata yang berhasil membuat saya merenung, begini bunyinya :

“Setinggi apa pun impianmu, kamu hanya butuh percaya. Seperti aku mempercayai impianku. Sertakan orang-orang yang kau cintai dalam impianmu. Karena mereka adalah sumber kekuatan bagimu. Satu hal lagi, Tuhan bersama kita yang berjuang.” (hlm. 280)




[Resensi] Sekeras Apa Kau Glegekan ?

on Kamis, 19 Maret 2015


 Judul : Sekeras Apa Kau Glegekan
Nama Penulis : Glenn Murphy
Alih Bahasa : Rina Buntaran
Desain Cover : Eddie S
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tanggal Terbit : April 2013
Edisi : Cetakan Pertama
ISBN : 978-979-22-8481-2

“Sains memainkan peranan yang begitu penting dalam dunia zaman sekarang sehingga semua orang perlu tahu setidaknya sedikit sains untuk memahami apa yang terjadi. Tapi lebih dari itu, belajar sains bisa sangat menyenangkan, kalau kau melakukannya secara benar. Yang perlu kaulakukan hanyalah terus bertanya, dan sains bisa membukakan pintu menuju dunia pemahaman dan hal-hal yang menyenangkan. Sains bukan hanya milikku—sains milikmu juga. Jadi, ambil, gunakan dan bermain-mainlah. Percayalah—kau akan senang melakukannya.” –hlm. 275

Pernah mengalami yang namanya glegekan / serdawa / sendawa ?
Pasti pernahkan. Tapi kalian tahu nggak sih kalau suara glegekan bisa lebih keras daripada suara sepeda motor ?

Yupp. Paul Hunn adalah seorang pria Inggris yang memecahkan rekor serdawa dengan berkekuatan 104,9 desibel. Padahal sepeda motor pada umumnya menderum pergi dengan kekuatan sekitar 90dB—dua puluh delapan unit lebih rendah.

Atau kalian pernah mengalami yang namanya cegukan ?
Tapi, kalian tahu nggak apa manfaat dari cegukan itu sendiri ?

Pernah bertanya-tanya apakah roket akan menggantikan pesawat suatu saat nanti ?
Atau pernah berpikir apakah nantinya mobil akan punya kemudi otomatis ?

Glenn Murphy menjawab semua pertanyaan-pertanyaanmu mengenai Sains di buku ini. Segala sesuatu tentang tubuh dan otak kalian. Tentang hal terbesar, terkecil, dan tercepat di dunia. Juga tentang kira-kira akan seperti apa pesawat terbang, kereta api, dan mobil di masa depan. Semua dijawab di buku ini, meskipun tidak akan begitu memuaskan karena kita hanya akan diberi gambarannya saja.

Buku nonfiksi yang masuk kategori buku edukatif ini sangat membantu / menjawab penasaran saya akan hal-hal Sains yang selama ini kurang begitu dipedulikan. Semisal apa manfaat cegukan itu sendiri. Nah, dari buku ini saya tahu bahwa menurut beberapa ilmuwan, cegukan tak berdampak apa pun—sama sekali tidak ada manfaatnya bagi tubuh (selain membuat kita terlihat konyol)

Meskipun buku ini termasuk buku anak-anak, namun rupanya saya merasa buku ini juga bisa dibaca oleh berbagai usia. Tidak hanya anak-anak saja. Karena orang dewasa pun harus membaca buku yang penuh dengan ilmu dan wawasan baru ini. Setidaknya melalui buku ini kita akan belajar tentang Sains dengan lebih menyenangkan dan tanpa tekanan. Karena menurut saya Sains tidaklah sesulit yang kita bayangkan. Malahan, saya semakin tertarik dengan dunia Sains setelah membaca buku ini.

Apalagi akhir-akhir ini kita mendengar yang namanya “pemanasan global”. Di dalam buku ini Glenn Murphy menjelaskan lebih rinci dan detail tentang pemanasan global itu sendiri. Apakah dunia memanas sendiri, atau kita penyebabnya ?

“Bicarakanlah, bacalah, pelajarilah—selamatkan dunia!” –hlm. 75

Kalau mesin mobil bisa menimbulkan polusi, mengapa kita semua tidak menggunakan mobil listrik ?

Memang mobil listrik dan separuh listrik tak terlalu merusak lingkungan, penggunaan keduanya bisa memecahkan seluruh masalah polusi. Namun, di dalam buku ini penulis memberikan saran yang begitu cemerlang, yang bahkan saya sendiri baru menyadarinya.

“Tapi, kalau kau benar-benar ingin menjadi sahabat lingkungan, kau bisa melakukan satu langkah lebih baik dengan membeli yang lain. Sebuah sepeda baru. Tanpa bensin, emisi nol, dan tidak perlu mencemaskan masalah pengisian ulang. Hanya kau, kakimu, dan jalanan yang terbentang panjang.” –hlm. 154

Melalui buku ini saya belajar hal baru mengenai Sains yang selama ini belum banyak saya ketahui. Melalui buku ini saya mendapatkan pemahaman baru mengenai Sains dan juga betapa menyenangkannya belajar Sains. Saya sangat merekomandasikan buku ini untuk siapa saja yang ingin belajar atau pun mendalami ilmu Sains. Terutama untuk anak-anak penggemar Sains di seluruh penjuru negeri.


“Tanpa Sains, takkan ada lagi mesin-mesin, takkan ada lagi teknologi, takkan ada lagi obat-obat baru, takkan ada lagi penjelajahan Ruang Angkasa, dan tidak ada harapan untuk menyelamatkan lingkungan hidup di Bumi. Sains membuat dunia bergerak maju. Karenanya, kita perlu berterimakasih kepada Sains.” –hlm. 275

[Review] A Cup Of Tea – Menggapai Mimpi

on Senin, 09 Maret 2015



Judul : A Cup Of Tea – Menggapai Mimpi
Nama Penulis : Herlina P. Dewi, Reni Erlina, dkk
Penyunting : Herlina P. Dewi  & Reni Erlina
Desain Cover : Ike Rosana & Felix Rubenta
Layout Isi : Deeje
Proof Reader : Tikah Kumala
Pemberi Komentar/ Renungan : Faiz Hayana’ (Psikolog dan Motivator)
Penerbit : Stiletto Book
Tanggal Terbit : Februari 2012
Edisi : Cetakan Pertama
ISBN : 978-602-96026-9-2

“Pelayaran di lautan luas tak terbatas tidak ada yang mulus. Adakalanya di tengah jalan terhantam ombak besar, badai, hujan, dan rintangan lain. Perjalanan untuk meraih cita-cita juga seperti itu, tidak mudah.” (hlm. 34)

Dalam buku ini berisi 20 cerita pendek karya 20 penulis yang menceritakan tentang cara mereka masing-masing dalam menggapai mimpi. Penulis-penulis yang terlibat dalam kumpulan cerpen ini mungkin telah kalian kenal atau bahkan merupakan penulis favorit kalian.

Buku ini menawarkan tema dan rasa yang berbeda. Tentang bagaimana impian datang dan terwujud. Tentang berbagai macam kegagalan yang tanpa diduga menghasilkan keberhasilan. Seperti cerpen Pelangi Sehabis Hujan karya Lucya Chriz yang menggambarkan adanya berkat di balik setiap masalah. Ada juga cerpen Karena Impian Terus Bergerak karya Yoana Dianika, Tidak Ada Mimpi Yang Tidak Bisa Terwujud karya Ni Made Rimawati. Dan beberapa penulis yang saya kenal sebagai penulis novel romance, cerpen-cerpennya tampil beda di buku ini seperti My FairyTale – Evi Sri Rezeki, Mimpiku Dimulai Dari Selembar Foto - Glenn Alexei.

Jujur, membaca buku kumpulan kisah inspiratif ini membuat saya berulang kali ditampar. Bagaimana tidak, dalam 20 cerpen ini saya seolah diingatkan. Saya seolah sedang bercermin tentang diri saya sendiri. Tentang berbagai impian yang ingin saya raih namun berulang kali saya hiraukan karena sebuah kata bernama keputusasaan.

“Mimpi apapun dapat diraih kalau kita mau bekerja keras dan berusaha.” (hlm. 29)

Ada pula cerpen menarik lain yang berhasil memukau saya: Si Tengah – Harry Gunawan yang membuat saya terharu. Terharu dengan kisah perjuangan Si Tengah yang berulang kali gagal masuk perguruan tinggi. Bukan karena ia tidak lulus seleksi. Malah sebaliknya, ia berulang kali lulus seleksi. Hanya satu hambatannya, sebuah kata bernama “biaya” yang berulang kali membuat saya muak. Ya, muak karena satu kata itu mampu menghentikan mimpi seseorang. Namun, rupanya kegagalan tak membuat semangat Si Tengah runtuh.

“Mama, ini ketiga kalinya aku lulus. Jika kali ini pun Mama tidak bisa membiayai kuliahku, maka aku akan mencari lagi informasi mengenai jurusan yang lebih murah dan mengikuti tesnya lagi tahun depan.” (hlm. 103)

Itu salah satu dialog yang berhasil membuat air mata saya turun. Ughh…nangis juga saya ternyata.

Ada pula cerpen tentang keterbatasan yang membuat kita harusnya lebih bersyukur dengan apa yang kita miliki sekarang ini. Garis Yang Terputus karya Veny Mandasari. Tentang gadis penderita Dystonia yang di dalam cerpen ini diremehkan sewaktu ia akan mendaftar ke perguruan tinggi. Tentang bagaimana ia bangkit dan terus ikhlas menerima fisik yang ia miliki. Yang harus bersabar bahwa ternyata penyakitnya itu tidak dapat disembuhkan. Sampai akhirnya Tuhan memberikan jalan yang terbaik untuknya.

“Hal terbaik yang bisa kita lakukan saat seseorang meragukan kemampuan kita adalah terus berjalan ke depan dan berbisik dalam hati, “Lihat Nanti…” (hlm. 94)

Tapi, bukan berarti cerpen-cerpen yang tidak saya sebutkan jelek lho ya, hanya saja terlalu panjang jika saya harus mengulas satu per satu. Lebih baik kalian sendiri yang membaca dan membuktikannya. Saya sendiri merasa puas setelah menyelesaikan buku ini. Meskipun ada sedikit kekecewaan yang terselip. Ya, saya kecewa karena penggalan kisah yang disampaikan kurang panjang. Sehingga saya kurang begitu merasakan konflik yang tajam. Mungkin karena buku ini berisi 20 kumpulan kisah inspiratif makanya dibatasi.

Selesai membaca buku ini semangat saya dalam menggapai impian kembali berkobar. Bahwa sejatinya impian itu tidak bisa dihancurkan, hanya bisa berubah bentuk, kekal dan terus bergerak, dan yang terpenting adalah, selalu mensyukuri anugerah-Nya.

Dan saat ini, saya sedang berusaha untuk terus rajin belajar demi menghadapi Ujian Nasional tahun 2015 ini. Mohon doanya dari sahabat semua.

“Kita saling mendoakan untuk tetap teguh menjalani hidup, menjadi pewarna dalam kehidupan, menjadi penoreh prasasti dalam jalur masa yang akan kita tempuh. Selamat berjuang wahai Sang Pemenang, kita adalah bagian di dalamnya.” (hlm. 163)